Beranda > februl defila, HEALTH, MOTIVASI > HUBUNGAN PENERIMAAN DIRI TERHADAP PERUBAHAN FISIK DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI MENOPAUSE

HUBUNGAN PENERIMAAN DIRI TERHADAP PERUBAHAN FISIK DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI MENOPAUSE


  1. Menopause
  1. Pengertian menopause

Salah satu tanda ketuaan yang ditakuti para wanita adalah menopause. Sebagian besar wanita menganggap bahwa menopause adalah suatu yang mengkhawatirkan dan menakutkan, meskipun hal tersebut merupakan hal yang alami. Hal ini berarti bahwa dalam perkembangannya wanita tidak mungkin lepas dari menopause karena menopause merupakan peristiwa yang pasti akan dialami oleh setiap wanita dan tidak bisa ditolak. Dimana akan memunculkan perubahanperubahan fisik yang menyebabkan permasalahan psikologis. Perubahan fisik tersebut antara lain hambatan fungsi ingatan, mudah marah, cemas dan mudah tersinggung (Bromwich, 1992).

Menurut arti katanya, menopause berasal dari kata “men” berarti bulan, “pause, pausis, paudo” yang berasal dari bahasa yunani yang berarti periode atau tanda berhenti, sehingga menopause diartikan sebagai berhentinya secara definitif menstruasi. Menopause secara teknis menunjukkan berhentinya menstruasi, yang dihubungkan dengan berakhirnya fungsi ovarium secara gradual, yang disebut klimakterium (Kartono, 1992)

Sutanto (2005) mendefinisikan menopause sebagai proses alami dalam penuaan, yaitu ketika wanita tidak mendapatkan haid lagi selama 1 tahun. Penyebab berhentinya haid karena ovarium tidak lagi memproduksi hormon estrogen dan progesteron, dan rata-rata terjadi menopause pada usia 50 tahun.

Gebbie (2005) mendefinisikan menopause sebagai periode menstruasi spontan yang terakhir pada seorang wanita dan merupakan diagnosa yang ditegakkan secara retrospektif setelah amenorrhea selama 12 bulan. Menopause terjadi pada usia rata-rata 51 tahun.

Shimp dan Smith (2000) mendifinisikan menopause sebagai akhir periode menstruasi, tetapi seorang wanita tidak diperhitungkan post menopause sampai wanita tersebut telah 1 tahun mengalami amenorrhea. Menopause membuat berakhirnya fase reproduksi pada kehidupan wanita.

Hawari (1997), mengatakan bahwa menopause adalah fase dari kehidupan seksual wanita, dimana siklus menstruasi berhenti. Bagi seorang wanita, dengan berhentinya menstruasi ini berarti berhentinya fungsi reproduksi (tidak dapat hamil dan mempunyai anak), namun tidak berarti peranannya dalam melayani suami di bidang kebutuhan seksual berhenti dengan sendirinya. Pada saat menopause, wanita akan mengalami perubahan-perubahan di dalam organ tubuhnya yang disebabkan oleh bertambahnya usia. Usia dari hari ke hari akan terus berjalan dan setiap orang seiring dengan bertambahnya usia tidak akan lepas dari predikat tua. Dengan bertambahnya usia maka gerak-gerik, tingkah laku, cara berpakaian dan bentuk tubuh mengalami suatu perubahan. Perubahan-perubahan inilah yang membuat wanita khawatir tentang menopause karena beranggapan akan kehilangan daya tarik serta khawatir orang-orang yang dicintainya akan meninggalkannya.

Menopause adalah berhentinya secara fisiologis siklus menstruasi yang berkaitan dengan tingkat lanjut usia perempuan. Seorang wanita yang mengalami menopause alamiah sama sekali tidak dapat mengetahui apakah saat menstruasi tertentu benar-benar merupakan menstruasinya yang terakhir sampai satu tahun berlalu. Menopause kadang-kadang disebut sebagai perubahan kehidupan. Kondisi ini juga ditemukan di beberapa spesies lain yang mengalami siklus seperti itu, seperti misalnya monyet rhesus dan sejumlah cetacean

Ketika menopause sudah mendekat, siklus dapat terjadi dalam waktu-waktu yang tidak menentu dan bukan hal yang aneh jika menstruasi tidak datang selama beberapa bulan. Pada usia empat puluh tahun, beberapa perubahan hormon yang dikaitkan dengan pra-menopause mulai terjadi. Penelitian telah membuktikan, misalnya, bahwa pada usia empat puluh tahun banyak wanita telah mengalami perubahan-perubahan dalam kepadatan tulang dan pada usia empat puluh empat tahun banyak yang menstruasinya menjadi lebih sedikit atau lebih pendek waktunya dibanding biasanya, atau malah lebih banyak dan/atau lebih lama. Sekitar 80% wanita mulai tidak teratur siklus menstruasinya. Kenyataannya, hanya sekitar 10% wanita berhenti menstruasi sama sekali tanpa disertai ketidakteraturan siklus yang berkepanjangan sebelumnya. Dalam suatu kajian yang melibatkan lebh dari 2.700 wanita, kebanyakan di antara mereka mengalami transisi pra-menopause yang berlangsung antara dua hingga delapan tahun.

Menopause adalah sesuatu yang normal dan wajar yang dialami oleh setiap wanita dan ditandai akhir dari masa subur. Masa menopause ini merupakan fakta kehidupan yang harus dialami oleh setiap wanita sehingga masa menopause ini pada wanita adalah tahap yang menimbulkan masalah. Hal ini mungkin tidak untuk semua wanita tetapi setidaknya bagi sebagaian besar dari mereka yang sedang memasuki tahap tersebut.

Menopause biasanya diikuti dengan berbagai gejolak atau perubahan baik perubahan fisik maupun psikologis, yang dapat mempengaruhi aspek kehidupan orang dewasa madya tersebut. Adapun beberapa keluhan fisik yang dirasakan atara lain ketidakteraturan siklus haid, gejolak rasa panas pada sekitar dada, leher dan wajah, adanya ketidakelastisan dan kekeringan pada sekitar vagina. Hal ini ditandai dengan adanya rasa pusing, gangguan tidur (insomnia), cepat lelah, berat badan meningkat, kulit kering, rambut rontok, gangguan proses sensoris, pengeroposan tulang (osteoporosis).

  1. Periode terjadinya menopause

Menurut Damayanti (2003), menopause dipacu oleh perubahan hormon dalam tubuh, yang diawali dengan terkelupasnya pelapis rahim (endometrium) bersama dengan sedikit darah, yang dipicu oleh kadar hormon progesteron yang rendah dalam tubuh. Pada waktu yang sama hormon perangsang folikel (FSH= Foilicle Stimulating Hormone) dan hormon lutein (Luteinizing Hormone) yang dihasilkan kelenjar hipofise merangsang proses pematangan telur dalam ovarium. Keadaan ini kemudian menghasilkan peningkatan kadar estrogen. Fase ini disebut fase pengelupasan.

Fase pengelupasan akan segera diikuti fase proliferasi dimana kadar estrogen tinggi dan membuat endometrium mengalami penebalan. Akhirnya kadar hormon perangsang folikel dan hormon lutein mencapai puncaknya dan terjadi pelepasan sel telur dari ovarium (ovulasi). Folikel tempat sel telur dilepaskan akan membentuk sebuah kelenjar yang disebut corpus luteum yang menghasilkan progesteron, yang akan membuat kelenjar endometrium mengalami fase sekresi sebagai persiapan bila terjadi perubahan, sehingga siap untuk suatu kehamilan. Jika sel telur tidak dibuahi, kadar estrogen menurun, corpus luteum mengalami degenerasi dan kadar progesteronpun menurun. Wanita dilahirkan dengan sejumlah besar sel telur yang secara bertahap akan habis terpakai. Ovarium tidak mampu membuat sel telur baru, sehingga begitu sel telur yang dimiliki sejak lahir habis, maka ovulasi akan berhenti sama sekali. Jadi terdapat semacam kekurangan hormon yang menyebabkan sebagian besar masalah yang terjadi di sekitar menopause, yang berkembang sesudahnya. Ada tiga macam hormon penting yang diproduksi oleh ovarium, yaitu estrogen, progesteron, dan testosteron, dimana setelah mencapai menopause hormon-hormon ini tidak diproduksi.

Santrock (2002) mengemukakan sejumlah perubahan fisik menandai masa dewasa tengah, beberapa perubahan mulai tampak lebih awal diusia 30 tahun, tetapi pada beberapa titik / bagian diusia 40 tahun, menurunnya perkembangan fisik menunjukkan bahwa masa dewasa tengah telah datang. Melihat dan mendengar adalah dua perubahan yang paling menyusahkan dan paling tampak dalam masa dewasa tengah. Daya akomodasi mata, kemampuan untuk memfokuskan dan mempertahankan gambar pada retina-mengalami penurunan paling tajam pada usia 40 dan 59 tahun. Khususnya, individu pada usia tengah baya mulai mengalami kesulitan melihat obyek-obyek yang dekat. Mengenai terjadinya menopause, tidak ada batasan umur yang pasti. Sesungguhnya setiap wanita mengalaminya pada umur tertentu, setelah masa kesempurnaan berakhir. Sehubungan dengan itu para ahli memberikan batasan umur pada wanita menopause berbeda-beda antara satu dengan yang lain, karena ditinjau dari sudut yang berbeda pula.

Purwantyastuti (2005) mengatakan bahwa umumnya wanita Indonesia mengalami menopause di usia 45-55 tahun. Hal yang sama juga dikatakan Braam dkk (1981), yang menyatakan bahwa sebagian besar wanita, menopause terjadi pada umur antara 45-55 tahun. Meskipun begitu ada beberapa wanita yang mengalami menstruasi terakhir sebelum umur 45 tahun, tetapi ada pula wanita yang sesudah berumur 57 tahun baru mendapatkan menstruasi terakhir.
Menurut Pakasi (dalam Indarwati, 2000) menopause terjadi ditengah masa klimakterium, yaitu suatu masa yang dimulai pada akhir masa reproduksi dan berakhir pada awal lanjut usia, yaitu usia 40-63 tahun. Pada masa inilah menstruasi yang merupakan salah satu tanda kewanitaan seseorang dan cerminan dari kapasitas reproduksi wanita secara berangsur-angsur mulai berhenti. Muhammad (1981) menjelaskan bahwa pada suatu saat akan tiba waktunya bagi sisa-sisa folikel sel telur yang berada pada indung telur untuk mulai menghilang. Saat ini tidaklah sama pada setiap wanita. Perubahan ini terjadi secara mendadak, antara umur 45 tahun dan 55 tahun. Ada transisi yang bertahap dari masa kegiatan indung telur yang tidak ada lagi, ketika wanita itu sudah mulai memasuki usia menopause. Menurut Hastings (Damayanti, 2003) sebagian besar wanita mengalami menopause antara umur 40 tahun dan 55 tahun dan rata-rata pada umur tahun.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa periode terjadinya menopause ketika persediaan sel telur habis, indung telur mulai menghentikan produksi entrogen yang akibatnya haid tidak muncul lagi. Pada wanita tersebut menginjak masa menopause, yang berarti berhentinya masa kesuburannya. Dan dengan melihat batasan umur wanita menopause yang telah disebutkan, dapat diambil kesimpulan batasan wanita akan mengalami menopause antara umur 40 tahun sampai 55 tahun.

  1. Gejala-gejala menopause

Pada masa menopause diikuti perubahan-perubahan baik fisik maupun psikisnya. Untuk mengetahui masa menopause sudah datang pada wanita, ada beberapa gejala yang mendahului meskipun tidak semua wanita akan merasakan gejala-gejala ini.

Reitz (dalam Damayanti, 2003) mengutarakan beberapa gejala yang mengawali masa menopause, yaitu:

  1. Berhentinya menstruasi secara mendadak. Mulai terjadi pola haid yang tidak beraturan, haid dapat berubah-ubah dari banyak menjadi sedikit tanpa pola tertentu pada wanita yang berusia sekitar 45 tahun keatas.
  2. Terjadinya arus panas. Hal ini terjadi karena tidak adanya keseimbangan pada vasomotor.
  3. Rasa gelisah, mudah tersinggung, ketegangan dan kecemasan, termasuk perasaan tertekan, sedih, malas, emosi yang meluap, mudah marah, merasa tidak berdaya dan mudah menangis.
  4. Osteoporosis (pengeroposan tulang).
  5. Pruritis, merupakan istilah kedokteran untuk rasa gatal pada kulit di daerah vulva atau alat kelamin.

Menurut Kartono (1992) beberapa gejala yang menandai menopause yang disebut fase preliminer, yaitu:

  1. Menstruasi yang tidak lancar dan tidak teratur, yang datang lebih lambat atau lebih awal.
  2. Kotoran, haid yang keluar banyak sekali ataupun sangat sedikit.
  3. Muncul gangguan-gangguan vasomotoris, yang berupa penyempitan atau pelebaran pembuluh-pembuluh darah.
  4. Merasa pusing, disertai sakit kepala terus menerus.
  5. Keringat berlebih, yaitu berkeringat yang tidak ada henti-hentinya.
  6. Neuralgia, yaitu gangguan atau sakit syaraf dan lain-lain.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa gejala-gejala menopause antara lain berhentinya menstruasi secara mendadak atau menstruasi yang tidak lancar dan tidak teratur, terjadinya arus panas, merasa gelisah, pusing, osteoporosis, pruritis, selalu berkeringat dan neuralgia.

  1. Tipe menopause

Menurut Mardjikoen (Virgandhani, 1995) berdasarkan etiologi (penyebabnya) ada 2 macam tipe menopause:

  1. Menopause faali, yaitu berhentinya haid yang disebabkan oleh karena sel-sel telur yang responsive terhadap gonadropin yang dihasilkan oleh Lobus anterior
    hipofisis, sehingga dari pengertian diatas dikatakan bahwa penyebab menopause adalah karena proses ketuaan, indung telur yang berfungsi sejak masa remaja mulai mengalami kemunduran sejalan dengan kemunduran fungsi yang lain.
  2. Menopause buatan atau artifisial yaitu menopause yang terjadi karena pengangkatan kedua indung telur atau akibat radiasi. Menopause artifisial ini bisa terjadi jauh sebelum wanita mencapai usia 40 tahun dan biasanya dilakukan sebagai indikasi pengobatan endometriosis, tumor ganas dari payudara atau endometrium yang sensitive ini timbul sebagai akibat dari pengobatan karena pengangkatan indung telur.

5. Gejala-Gejala menopause

a. Gejala-gejala fisik

Menurut Hurlock (Indrianingsih, 1997), pada fase pra menopause atau sebelum menopause itu terjadi, kegagalan ovarium melakukan fungsinya, selain menyebabkan menstruasi menjadi tidak teratur, juga akan menimbulkan gangguan emosi pada fase setelah menopause terjadi atau disebut fase post menopause, terjadi hiperaktivitas pada kelenjar Pituitari, yang akan menyebabkan gangguan vasomotor dan metabolik. Sementara itu, tubuh masih terus mengadakan keseimbangan kadar hormon endokrin. Ketidakseimbangan sistem endokrin menyebabkan muncul gejala-gejala fisik serta emosional, yang lazim disebut gejala menopause. Gejala-gejala ini dapat berlangsung mulai dari pra menopause sampai post menopause tetapi kedaan ini bervariasi pada tiap-tiap wanita, ada yang hanya mengalami pada pra menopause atau pada post menopause saja, namun ada juga yang berlangsung mulai dari pra sampai post menopause.

Menurut Cobb (1993) dan Bramundito (1998) mengemukakan bahwa gejala-gejala fisik yang lazim menyertai menopause adalah ketidakteraturan siklus haid, gejolak rasa panas pada sekitar dada, leher dan wajah, adanya ketidak-elastisan dan kekeringan pada sekitar vagina. Hal ini ditandai dengan adanya rasa pusing, gangguan tidur (insomnia), cepat lelah, berat badan meningkat, kulit kering, rambut rontok gangguan proses sensori dan pegeroposan tulang (osteoporosis).

Tidak semua wanita pada periode menopause mengalami gejala menopause yang tidak menyenangkan ini, ada sebagian wanita yang tidak terganggu, bahkan seakan-akan terbebas sama sekali dari gejala-gejala ini, meskipun jumlahnya hanya sedikit.

  1. Mitos-mitos dalam Menopause

Pada umumnya, pandangan dan penilaian wanita tentang menopause banyak dipengaruhi mitos atau keyakinan yang belum tentu benar, pada individu masyarakat tentang menopause. Kebanyakan mitos atau kepercayaan yang berkembang dalam masyarakat tentang menopause, begitu diyakini sehingga menggiring wanita untuk mengalami perasaan-perasaan negatif saat mengalami menopause. Perasaan negatif yang sering menyertai adalah tidak cantik lagi, tidak berharga, tidak dibutuhkan, dlsb. Mitos atau keyakinan yang tidak rasional tentang menopause tersebut antara lain bahwa:

  1. Wanita yang mengalami menopause otomatis berpredikat “menjadi tua” atau “waktunya sudah lewat”. Dengan berhentinya menstruasi, berarti wanita tidak lagi mampu melahirkan anak, berarti tidak lagi mampu mengemban tugas/peran sebagai penerus generasi. Disamping itu dengan menurun bahkan berhentinya hormon estrogen akan berpengaruh pada hilangnya tanda-tanda kecantikan yang selama ini merupakan ciri khas wanita yang dibanggakan. Bagi wanita yang sangat mengagung-agungkan kecantikan, yang meyakini bahwa penampilan atau kecantikan adalah hal yang sangat penting untuk kesuksesan pergaulan di masyarakat ataupun di dunia pekerjaan, maka hilangnya tanda-tanda kecantikan merupakan sesuatu yang sangat ditakutkan. Mereka sangat cemas, takut membayangkan munculnya keriput-keriput pada kulitnya dan tanda-tanda lainnya. Keyakinan ini membuat wanita merasa dirinya sudah tidak menarik lagi dan sudah tidak keibuan lagi. Kecemasan wanita masa menopause menjadi bertambah karena dia khawatir kalau suaminya mencari pasangan lagi yang lebih muda dan menggairahkan.
  2. Menopause dikaitkan dengan “lengsernya” peran sebagai istri bagi suami dan ibu bagi anak-anaknya. Sebagian besar wanita mengalami menopause, hampir bersamaan waktunya dengan pencapaian karir puncak suaminya dalam pekerjaannya. Dalam kondisi ini, kebanyakan suami disibukkan dengan urusan pekerjaan sehingga waktu untuk istri berkurang. Sebagian besar anak-anaknyapun sudah menginjak usia remaja-dewasa awal. Mereka sibuk ada kesan anak tidak lagi “membutuhkan” ibunya. Bagi wanita yang selama ini mengabdikan total pada keluarga berkurangnya kerepotan mengurus suami dan anak, akan menimbulkan perasaan bahwa dirinya sudah tidak berharga dan tidak dibutuhkan lagi. Perasaan bahwa dirinya tidak dibutuhkan dan tidak dihargai lagi, ini akan menurunkan bahkan menghentikannya keinginannya untuk melakukan aktivitas. Iapun akan makin mengisolir dan menyingkir dari aktivitas sosial dan kemasyarakatan.
  3. Wanita yang mengalami menopause, kehilangan daya tarik seksualnya dan menurun aktivitas seksualnya. Ada beberapa wanita yang beranggapan sesudah menopause, tidak bisa memberi kepuasan seksual bagi suaminya. Iapun tidak dapat menikmati hubungan intim dengan suaminya, karena jaringan genitalnya berkurang elasitisitasnya. Bahkan ada anggapan wanita yang sudah menopause seyogyanya tidak melakukan hubungan seksual karena akan mengakibatkan munculnya penyakit. Keyakinan ini menggiring wanita untuk mengurangi atau menghindari aktivitas seksual, yang akan berpengaruh pada berkurangnya keharmonisan hubungan suami istri. Kondisi ini akan memicu munculnya problem suami-istri yang lebih komplek.
  4. Mitos lainnya yaitu bahwa periode menopause sama dengan periode goncangan jiwa, yaitu munculnya gejala rasa takut, tegang, sedih , lekas marah, mudah tersinggung, gugup, stres dan depresi. Seperti yang telah dikemukakan diatas bahwa semua emosi negatif yang muncul itu sangat dipengaruhi oleh penilaian negatif atas menopause.

Dari apa yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa ada wanita yang mengalami gangguan emosi – psikologi saat menghadapi dan mengalami menopause. Tetapi tidak berarti semua wanita pada masa mengalami gangguan emosi, karena sebenarnya bagaimana individu menanggapi suatu peristiwa itu sangat ditentukan oleh faktor kepribadiannya khususnya bagaimana ia mengintrepetasi atau menilai peristiwa tersebut. Bila menopause dipandang sebagai hal yang alamiah/sunnatullah bahkan disyukuri atas kenikmatan yang diberikan Allah, maka iapun akan menghadapinya dengan penuh penerimaan dan keikhlasan sehingga berbagai gangguan fisiologis yang dialaminya tidak berdampak pada gangguan psikologis.

Disamping itu wanita yang sangat mencemaskan menopause besar kemungkinannya karena ia kurang mempunyai informasi yang benar mengenai seluk beluk menopause. Oleh karena sosialisasi mengenai apa, bagaimana pencegahan dan dengan kegiatannya, sehingga tidak lagi “merusuhi” ibunya bahkan pengatasan menopause sangat diperlukan masyarakat. Mengingat menurut data dari WHO tahun 2030 nanti diperkirakan ada 1,2 miliar wanita yang berusia di atas 50 tahun dan sebagian besar mereka tinggal di negara berkembang.

2 Saran

  • Berbagai keluhan fisik pada wanita yang mengalami menopause, dapat diatasi dengan pemberian obat yang bersifat mengganti hormon estrogen. Pemberian obat ini digunakan untuk memulihkan sel-sel yang mengalami kemunduran. Disamping itu juga bisa menngkonsumsi vitamin yang fungsinya memperlambat proses penuaan. Untuk pengatasan ini perlu konsultasi dengan dokter yang berwewenang.
  • Olah raga yang sesuai dengan usia tengah baya, dengan olah raga produksi endorphine dalam otak meningkat, kondisi ini dapat memelihara keceriaan dan kegembiraan, pengiriman oksigen ke otakpun meningkat, sehingga ketegangan otot dan berbagai gangguan fisik pun sirna.    Olahraga teratur akan menyehatkan jantung dan tulang, mengatur berat badan, menyegarkan tubuh, dan memperbaiki suasana hati. Jarang berolahraga menyebabkan peredaran darah kurang lancar, otot lemah, napas pendek, masa tulang cepat berkurang. Hal ini menyebabkan rentan terhadap gangguan kardiovaskuler, darah tinggi, kegemukan, diabetes, nyeri tulang, osteoporosis dan depresi.
  • Makanan yang baik. Makanlah makanan yang rendah lemak. Banyak makan sayuran, buah, biji-bijian. Vitamin, mineral dan serat dalam makanan itu akan membantu pencernaan dan metabolisme tubuh.
  • Melakukan hobi. Hidup tanpa sesuatu yang menyenangkan rasanya hambar, maka terlibat dengan aktivitas yang merupakan hobi dapat mengusir kebosanan dan mengatasi ketegangan-ketegangan dalam hidup termasuk krisis pada menopause.
  • Tetaplah berkarya dan usahakan dapat memberikan manfaat bagi orang lain, datangnya menopause tidak perlu dipandang sebagai penderitaan. Banyak peluang atau usaha yang dapat dijalani, yang dapat memberi pekerjaan bagi orang lain. Upaya ini dapat meningkatkan perasaan bahwa diri kita masih mampu memberi manfaat bagi orang lain Berpikirlah bahwa menopause itu sesuatu yang wajar. Jutaan wanita telah mengalami, dan mereka tidak merasa terganggu. Bahkan sampai sekarang perempuan di desa tidak pernah merasa ada gangguan saat menopause. Disamping itu berpikirlah secara positif, apapun peristiwa yang dialami (termasuk menopause) bila dilihat dengan “kaca mata” positif (khusnudzon) maka tidak akan berdampak negatif bagi kehidupan.
  • Terlibat dalam aktivitas-aktivitas keagamaan-sosial, dengan memberikan apa yang di miliki baik itu pengetahuan atau ketrampilan pada orang lain, akan dapat mengurangi perasaan-perasaan negatif yang mungkin muncul. Keterlibatan dalam berbagai aktivitas juga dapat mempertebal kepercayaan diri dan meningkatkan citra diri yang mulai menurun.
  • Disamping itu bersilaturahmi atau bertemu dengan teman yang mungkin mempunyai masalah yang sama, dapat berfungsi sebagai obat. Pertemuan yang memungkinkan untuk saling “berbagi rasa berbagi duka” sehingga beban itu tidak hanya dirasakan sendiri.
  • Komunikasikan masalah dengan suami, berbagai perubahan maupun gangguan fisik-psikis-sosial yang dirasakan perlu diketahui suami. Pengertian, penerimaan dan dukungan dari suami sangat besar artinya bagi wanita yang mengalami menopause, sehingga ketegangan yang munul dapat di cegah. Lebih baik bila keterbukaan ini juga ditumbuhkan dalam keluarga secara keseluruhan, artinya anak-anak juga memberikan dukungan.
  • Dan yang paling penting adalah tingkatkan ibadah, dekatkan diri pada Allah SWT, yang akan memperkaya kehidupan ruhani dan menyadari sepenuhnya bila tujuan hidup ini untuk mengabdi pada Allah SWT. Yakinlah bahwa semua proses kehidupan manusia sejak dalam kandungan, lahir, tumbuh dan meninggal, itu semua sudah merupakan merupakan perwujutan dari ketentuan Allah yang harus dijalani dalam kehidupan dunia, sebelum memasuki kehidupan akhirat yang kekal dan tidak berakhir. Pandanglah bahwa semua yang dialami sebagai kenikmatan dari Allah SWT. Menopause bukan akhir dari suatu kehidupan, bahkan merupakan saat yang tepat untuk lebih mendekatkan diri pada Allah SWT.

    b. Gejala-gejala Psikologis

Selain fisik, perubahan psikis juga sangat mempengaruhi kualitas hidup seorang wanita dalam menjalani masa menopause. Adapun perubahan psikis pada masa menopause sangat tergantung pada masing-masing individu.

Menurut Daradjat (1978) sudah menjadi kenyataan yang wajar bahwa setiap perubahan hidup memberi dampak pada kondisi psikologis, maka perubahan yang menurun pada wanita seperti berhentinya haid, dan hilangnya kemampuan melahirkan anak mengakibatkan kegelisahan. Bila wanita dapat menghadapi masa ini dengan tenang, mereka akan tetap bahagia dalam hidupnya.

Sebaliknya jika wanita menjadi cemas takut kehilangan daya tarik fisik serta tertekan dengan keadaannya, maka hal tersebut justru akan memberi dampak negatif terhadap psikisnya, keadaan emosi menjadi guncang dan tidak stabil sehingga wanita menjadi mudah marah, mudah tersinggung dan mudah pula merasa sedih. Ekspresi wajahnya-pun mudah berubah dari muram, marah dan benci menjadi cerah, tenang dan sayang. Ucapan-ucapan yang keluar dari mulutnya kadang-kadang tajam dan mengakibatkan luka hati orang lain, anak-anak serta suaminya. Keadaan tersebut mengganggu keselarasan hidup keluarga dan sosial, bahkan tidak jarang pula timbul pikiran tidak baik terhadap dirinya, ingin menyiksa diri, membiarkan diri sakit, atau mungkin akan saja ada pikiran ingin bunuh diri (Daradjat, 1978).

  1. PERUBAHAN FISIK SELAMA MENOPAUSE

Banyak perubahan yang mungkin akan dialami baik fisik maupun psikologis terkait dengan menopause karena perubahan hormon. Berdasarkan yang ditulis di situs Oketip.com, perubahan fisik yang mungkin akan terjadi pada perempuan selama masa menopause adalah:

  1. Perut Kembung

    Perut kembung disebabkan oleh retensi gas dan cairan. Kembung merupakan gejala menopause yang sangat umum terjadi. Kondisi ini juga bisa disebabkan oleh terapi hormon pengganti atau terapi sulih hormon. Perempuan biasanya terbiasa mengalami perut kembung sebelum periode menstruasi mereka. Untuk beberapa kondisi, kembung dapat diperburuk oleh diet yang buruk, dehidrasi, dan stres.

  2. Berat Badan Bertambah

    Sebagian besar perempuan mengalami penambahan berat badan dalam jumlah yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu penting untuk mengelola berat badan melalui diet dan olahraga sebelum kondisi kesehatan lain terjadi, misalnya kadar kolesterol tinggi, diabetes, atau penyakit jantung.

  3. Kelelahan

    Kelelahan bisa disebabkan karena berat badan berlebih atau karena menopause itu sendiri. Lemas, pegal-pegal pada otot, dan kelelahan setelah makan merupakan kondisi yang juga terkait dengan fluktuasi hormon. Gejala menopause dapat menyebabkan stres pada tubuh, sehingga sangat penting untuk menjaga jadwal tidur yang teratur.

  4. Insomnia dan Gangguan Tidur

    Kelelahan bisa saja disebabkan oleh insomnia maupun gangguan tidur lainnya. Sedangkan insomnia sendiri bisa disebabkan oleh gejala menopause, seperti berkeringat di malam hari, kegelisahan, kecemasan, dan depresi.

  5. Pusing

    Pusing bisa terjadi setelah seseorang duduk lama dan kemudian berdiri terlalu cepat. Gejala ini juga bisa menjadi pertanda dari tekanan darah rendah, fluktuasi kadar gula darah, dan hipoglikemia, yang kesemuanya merupakan bagian dari gejala menopause.

  6. Denyut Jantung Tidak Teratur

    Denyut jantung yang tidak teratur dapat terjadi sebelum atau selama masa menopause. Jantung berdebar atau berdetak cepat disebabkan oleh penurunan hormon yang memengaruhi sistem kardiovaskular.

  7. Kerontokan Rambut

    Kerontokan rambut tidak hanya terjadi pada laki-laki karena usia yang semakin bertambah, namun juga terjadi pada perempuan selama menopause.

  8. Inkontinensia Urin

    Inkontinensia urin atau masalah dalam mengontrol kandung kemih bisa terjadi selama menopause. Masalah ini bervariasi mulai dari hanya sedikit urin yang keluar ketika tertawa atau bersin, hingga banyak urin yang keluar yang tidak diketahui penyebabnya.

  9. Alergi

    Selama menopause, alergi bisa terjadi, mulai dari munculnya tanda kebiruan atau yang lebih buruk. Tingkat sensitivitas beberapa perempuan terhadap alergen secara signifikan meningkat sampai pasca menopause.

  10. Kuku Rapuh

    Salah satu tanda yang umum dari menopause adalah kuku yang rapuh.

  11. Perubahan Bau Kulit

    Perubahan bau kulit bisa jadi disebabkan oleh pertumbuhan bakteri kulit selama menopause.

  12. Osteoporosis

    Osteoporosis merupakan salah satu dampak yang paling merusak dari menopause. Tulang yang lemah menjadi lebih berisiko untuk mengalami patah tulang kecil (small bone fractures). Beberapa wanita bisa jadi mengalami patah tulang dan tidak menyadarinya. Tanda-tanda lainnya adalah nyeri punggung, kehilangan gigi, postur tubuh yang membungkuk, dan nyeri tulang. Salah satu yang menyebabkan osteoporosis adalah keterbatasan jumlah kalsium dalam tubuh.

  1. KECEMASAN MENGHADAPI MENOPAUSE
  2. Pengertian kecemasan menghadapi menopause
    1. Pengertian kecemasan.

Salah satu gejala yang dialami oleh semua orang dalam hidup adalah kecemasan. Menjadi cemas pada tingkat tertentu dapat dianggap sebagai bagian dari respon normal untuk mengatasi masalah sehari-hari. Bagaimanapun juga bila kecemasan ini berlebihan dan tidak sebanding dengan suatu situasi, hal itu dianggap sebagai hambatan dan dikenal sebagai masalah klinis.

Menurut Bryne (1966), bahwa kecemasan adalah suatu perasaan yang dialami individu, seperti apabila ia mengalami ketakutan. Pada kecemasan perasaan ini bersifat kabur, tidak realistis atau tidak jelas obyeknya sedangkan pada ketakutan obyeknya jelas. Menurut Hurlock (1990), kecemasan adalah bentuk perasaan khawatir, gelisah dan perasaan-perasaan lain yang kurang menyenangkan. Biasanya perasaan-perasaan ini disertai oleh rasa kurang percaya diri, tidak mampu, merasa rendah diri, dan tidak mampu menghadapi suatu masalah.

Menurut Kartono (1997), ketidakberanian individu dalam menghadapi suatu masalah dan ditambah dengan adanya kerisauan terhadap hal-hal yang tidak jelas merupakan tanda-tanda kecemasan pada individu.

Pendapat ahli lain Havary (1997), berpendapat bahwa kecemasan merupakan reaksi psikis terhadap kondisi mental individu yang tertekan. Apabila orang menyadari bahwa hal-hal yang tidak bisa berjalan dengan baik pada situasi tertentu akan berakhir tidak enak maka mereka akan cemas. Kondisi-kondisi atau situasi yang menekan akan memunculkan kecemasan.

Dari uraian di atas diambil suatu kesimpulan bahwa kecemasan adalah suatu kondisi psikologis individu yang berupa ketegangan, kegelisahan, kekhawatiran sebagai reaksi terhadap adanya sesuatu yang bersifat mengancam.

b. Pengertian kecemasan menghadapi menopause.

Burn (1988), bahwa kebanyakan wanita menopause sering mengalami depresi dan kecemasan dimana kecemasan yang muncul dapat menimbulkan insomnia atau tidak bisa tidur. Setiap orang mempunyai keyakinan dan harapan yang berbeda-beda. Karena perbedaan itu maka tidak ada dua orang yang akan memberikan reaksi yang sama, meskipun tampaknya mereka seakan-akan bereaksi dengan cara yang sama. Situasi yang membuat cemas adalah situasi yang mengandung masalah tertentu yang akan memicu rasa cemas dalam diri seseorang dan tidak terjadi pada orang lain. (Tallis, 1995)

Kartono (1992), mengemukakan perubahan-perubahan psikis yang terjadi pada masa menopause akan menimbulkan sikap yang berbeda-beda antara lain yaitu adanya suatu krisis yang dimanifestasikan dalam simtom-simtom psikologis seperti: depresi, mudah tersinggung, dan mudah menjadi marah, dan diliputi banyak kecemasan. Adanya perubahan fisik yang terjadi sehubungan dengan menopause mengandung arti yang lebih mendalam bagi kehidupan wanita. Berhentinya siklus menstruasi dirasakan sebagai hilangnya sifat inti kewanitaannya karena sudah tidak dapat melahirkan anak lagi. Akibat lebih jauh adalah timbulnya perasaan tak berharga, tidak berarti dalam hidup sehingga muncul rasa khawatir akan adanya kemungkinan bahwa orang-orang yang dicintainya berpaling dan meningggalkannya. Perasaan itulah yang seringkali dirasakan wanita pada masa menopause, sehingga sering menimbulkan kecemasan. (Muhammad,1981)

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kecemasan menghadapi menopause adalah perasaan gelisah, khawatir dari adanya perubahan-perubahan fisik, sosial maupun seksual sehubungan dengan menopause.

2. Faktor penyebab kecemasan menghadapi menopause

Sebuah permasalahan yang muncul pasti ada yang melatarbelakanginya, sehingga permasalahan itu timbul demikian juga kecemasan yang dialami oleh seseorang, ada penyebab yang melatarbelakanginya.

Menurut Kartono (2000), kecemasan disebabkan oleh dorongan-dorongan seksual yang tidak mendapatkan kepuasan dan terhambat, sehingga mengakibatkan banyak konflik batin.

Menurut Hartoyo (2004), bahwa stressor pencetus kecemasan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu:

a. Ancaman terhadap integritas fisik, meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari.

b. Ancaman terhadap system diri, dapat membahayakan identitas, harga diri, dan fungsi integritas sosial. Faktor internal dan eksternal dapat mengancam harga diri. Faktor eksternal meliputi kehilangan nilai diri akibat kematian, cerai, atau perubahan jabatan. Faktor internal meliputi kesulitan interpersonal di rumah atau tempat kerja.

Menurut Carpenito (1998), ada beberapa faktor yang berhubungan dengan munculnya kecemasan, yaitu :

  1. Patofisiologis, yaitu setiap faktor yang berhubungan dengan kebutuhan dasar manusia akan makanan, air, kenyamanan dan keamanan.
  2. Situasional (orang dan lingkungan)
  3. Berhubungan dengan ancaman konsep diri terhadap perubahan status, adanya kegagalan, kehilangan benda yang dimiliki, dan kurang penghargaan dari orang lain.
  4. Berhubungan dengan kehilangan orang terdekat karena kematian, perceraian, tekanan budaya, perpindahan, dan adanya perpisahan sementara atau permanen.
  5. Berhubungan dengan ancaman intergritas biologis : yaitu penyakit, terkena penyakit mendadak, sekarat, dan penanganan-penanganan medis terhadap sakit.
  6. Berhungan dengan perubahan dalam lingkungannya misalnya : pencemaran lingkungan, pensiun, dan bahaya terhadap keamanan.
  7. Berhubungan dengan perubahan status sosial ekonomi, misalnya pengangguran, pekerjaan baru, dan promosi jabatan.
  8. Berhubungan dengan kecemasan orang lain terhadap individu.

Freud (dalam Hall, 1980), faktor yang mempengaruhi kecemasan adalah lingkungan disekitar individu.dan menurut Priest (1987), bahwa sumber umum dari kecemasan adalah pergaulan, usia yang bertambah, keguncangan rumah tangga, dan adanya problem. Selain itu kecemasan juga ditimbulkan karena tidak terpenuhinya kebutuhan seksual, atau frustasi karena tidak tercapainya apa yang diingini baik material maupun sosial.

Menurut Tallis (1995), bahwa penyebab individu cemas adalah masalah yang tidak bisa terselesaikan. Contoh masalah yang tidak dapat terselesaikan
adalah penuaan dan kematian. Menurut Dimyati (1990), mengatakan bahwa kecemasan disebabkan oleh adanya keinginan-keinginan, kebutuhan, dan hal-hal
yang tidak disetujui oleh orang-orang disekitar, selain itu rangsangan emosi merupakan reaksi terhadap kekecewaan terhadap frustasi. Sedangkan menurut
Freud (dalam Dimyati, 1990), bahwa penyebab kecemasan pada individu adalah motif sosial dan motif seksual.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan kecemasan menghadapi menopause adalah masalah yang tidak
terselesaikan, kekhawatiran terhadap sesuatu yang belum terjadi, adanya motif sosial dan motif seksual.

  1. Gejala-gejala kecemasan menghadapi menopause

Setiap individu pasti pernah merasakan perasaan tidak nyaman, takut waswas akan suatu hal dalam hidupnya, salah satunya adalah perasaan cemas. Ada beberapa gejala tentang kecemasan menurut Morgan (1991) yaitu :

  1. Gejala fisiologis : gemetar, tegang, nyeri otot, letih, tidak dapat santai, kelopak mata bergetar, kening berkerut, muka tegang, tak dapat diam, mudah kaget, berkeringat, jantung berdebar cepat, rasa dingin, telapak tangan lembab, mulut kering, pusing, kepala terasa ringan, kesemutan, rasa mual, rasa aliran panas dingin, sering kencing, diare, rasa tak enak di ulu hati, kerongkongan tersumbat, muka merah dan pucat, denyut nadi dan nafas yang cepat waktu istirahat.
  2. Gejala psikologis : rasa khawatir yang berlebihan tentang hal-hal yang akan datang, seperti cemas, khawatir, takut, berpikir berulang-ulang, membayangkan akan datangnya kemalangan terhadap dirinya maupun orang lain, kewaspadaan yang berlebih, diantaranya adalah mengamati lingkungan secara berlebihan sehingga mengakibatkan perhatian mudah teralih, sulit konsentrasi, merasa nyeri, dan sukar tidur.

    Adapun gejala-gejala psikologis adanya kecemasan menghadapi menopause bila ditinjau dari beberapa aspek, menurut Blackburn dan Davidson (dalam Zainuddin, 2000) adalah sebagai berikut:

    1. Suasana hati, yaitu keadaan yang menunjukan ketidaktenangan psikis, seperti: mudah marah, persaaan sangat tegang.
    2. Pikiran, yaitu keadaan pikiran yang tidak menentu, seperti : khawatir, sukar konsentrasi, pikiran kosong, membesar besarkan ancaman, memandang diri sebagai sangat sensitif, merasa tidak berdaya,.
    3. Motivasi, yaitu dorongan untuk mencapai sesuatu, seperti : menghindari situasi, ketergantungan yang tinggi, ingin melarikan diri dari kenyataan.
    4. Perilaku gelisah yaitu keadaan diri yang tidak terkendali seperti : gugup, kewaspadaan yang berlebihan, sangat sensitif dan agitasi.
    5. Reaksi-reaksi biologis yang tidak terkendali, seperti : berkeringat, gemetar, pusing, berdebar-debar, mual, mulut kering.

Menurut Freud (dalam Hall, 1980), mengatakan tentang gejala-gejala kecemasan yang dialami oleh individu biasanya mulutnya menjadi kering bernafas lebih cepat, jantung berdenyut cepat.

Selain hal diatas Weekes (1992), menambahkan tentang gejala-gejala kecemasan yang lain diantaranya adalah gelisah, adanya perasaan tidak berdaya,
tidak nyaman, insomnia, menarik diri, gangguan pola makan, komunikasi verbal menurun, perasaan terancam atau ketakutan yang luar biasa, pikiran terpusat pada gangguan fisiknya dan kesadaran diri menurun, merasa mual, banyak berkeringat, gemetar dan seringkali diare.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan tentang gejala-gejala kecemasan menghadapi menopause adalah suasana hati yang menunjukan ketidaktenangan psikis, pikiran yang tidak menentu, motivasi untuk mencapai sesuatu, reaksireaksi biologis yang tidak terkendali.

DAFTAR PUSTAKA

Puji, Duwi Hastutik.2009.Hubungan Antara Kecenderungan Berpikir Positif dengan Kecemasan Menjelang Menopause:Universitas Muhammadyah Surakarta

Retnowati, Sofia Noor.2001.Tetap Bergairah Memasuki Usia Menopause:Sebuah Tinjauan Psikologis. Fakultas Psikologi UGM:Yogyakarta

Susiana, Praju Marga.2007.Hubungan Gambaran Diri Dengan Tingkat Kecemasan Ibu Masa Menopause di Kelurahan Lhok Keutapang Tapaktuan.Universitas Sumatera Utara:Medan


http://aizholic.blogspot.com/2009/11/stress-pada-masa-menopause.html


http://bidanjasmine.blogspot.com/2011/02/cara-mengatasi-gangguan-psikologi-pada.html


http://c3nung.wordpress.com/2009/07/08/tps-ku-hubungan-antara-penerimaan-diri-dengan-kecemasan-menjelang-menopause/


http://klinis.wordpress.com/2007/12/28/menopause/

http://klinis.wordpress.com/2008/01/02/kecemasan-menghadapi-menopause/

http://menoherbs.org/tag/makalah-tentang-menopause/

http://oketips.com/5546/tips-kesehatan-12-jenis-perubahan-fisik-selama-menopause/

  1. 26 Juni 2013 pukul 1:41 am

    Thanks for one’s marvelous posting! I truly enjoyed reading it, you are a great author. I will remember to bookmark your blog and will come back in the foreseeable future. I want to encourage continue your great posts, have a nice evening!

  2. 18 Oktober 2013 pukul 4:16 am

    hello!,I like your writing very so much! hare we keep inn touch extra about your post on AOL?
    I need an expert on this space to unrazvel my problem.
    May be that’s you! Looking ahead to look you.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: