Beranda > EDUCATION, februl defila > Aliran-Aliran Pendidikan

Aliran-Aliran Pendidikan


Aliran-aliran dalam Pendidikan

  1. Aliran Progresivisme

Aliran Progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progresivisme dalam semua realita, terutama dalam kehidupan adalah tetap survive terhadap semua tantangan hidup manusia harus praktis dalam melihat segala sesuatu dari segi keagunganya. Progresivisme dinamakan instumentalisme, karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup untuk kesejasteraan , untuk mengembangkan kepribadian manusia. dinamakan eksperimentalisme, karena aliran tersebut menyadari dan mempraktekan suatu teori. progresivisme dinamakan environmentalisme karena aliran ini menganggap lingkungan hidup itumem pengaruhi pembinaa kepribadian.

Tokoh-tokoh aliran Progresivisme:

1 William James (11 Januari 1842-26 Agustus 1910)

2. John Dewey (1859-1952)

3.hans Vaihinger (1852-1933)

4. Georges Santayana

Aliran filsafat progresivisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan pada abad ke-20, dimana telah meletakan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik . anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berfikir ,guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya, tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain, oleh karena itu filsafat progresivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. sebab pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi – pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. sekaligus mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik.

Adapun filsafat progresif memendang tentang kebudayaan bahea budaya sebagai hasil budi manusiayang tidak beku, melainkan selalu berkembang dan berunah. maka pendidikan sebagai usaha manusia yang merupakan refleksi dari kebudayaan itu haruslah sejiwa dengan kebudayaan itu.

untuk itu pendidikan sebagi alat untuk memproses dan mengkonstruksi kebudayaan baru haruslah dapat menciptakan situasi yang edukatif yang pada akhirnya akan dapat memberikan warna dan corak dari output (keluaran) yang dihasilkan, sehingga keluaran yang dihasilkan (anak didik) adalah manusia-manusia yang berkualitas unggul, berko,petitif, dan kreatifsanggup menjawab tantangan zamanya. untuk itu sangat diperlukan kurikulum yang berpusat pada pengalaman , dimana apa yang telah diperoleh anak didik selama disekolah akan dapat diterapkan dalam kehidupan nyatanya. dengan metode pendidikan “belajar sambil berbuat” (Learning By Doing) dan pemecahan masalah (problem Solving) dengan langkah-langkah menghadapi problem, mengajukan hipotesa.

  1. Aliran Esensialisme.

Esensialisme adalah pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal perabadan manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan Progresivisme. perbedaanya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, dimana serta terbuka untuk perubahan , toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu, essensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai kejelasan dan tahan lama yang memberikan kesetabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.
Idealisme dan realisme adalah filsafat yang membentuk corak Esen sial , akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing. dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya masing-masing yang disebu Essensialisme, karena timbul pada zaman itu, essensialisme adalah konsep meletakan sebagian ciri alam pikir modern, Essensialisme pertam-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. maka disusunlah konsep sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta, yang memenuhi tuntutan zaman.


tokoh-tokoh Aliran esensialisme:

  • George Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831)
  • George Santayana
  1. Aliran Perenialisme

Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh, Pernialisme berasl dari kata perennial yang berarti abadi, kekal atau selalu . perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif, perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. jalan yang ditempuh oleh kaum perenialisme adalah dengan jalan mundur kebelakang, dengan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kuat, kukuh. dalam pendidikan kaum perenialisme perpandangan bahwa dalam dunia yang tidak menentu dan penuh kekacauan serta membahayakan tidak ada satu pun yang lebih bermanfaat dari pada kepastian tujuan pendidikan, serta kestabilan dalam prilaku pendidikan. Mohammad Noor Syam (1984) mengemukakan pandangan perenialis bahwa pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatianya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. perenialisme memnadang pendidikan sebagi jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal.

Perenialisme memandang bahwa kepercayaan-kepercayaan aksiomatis zaman kuno dan abad pertengahan perlu dijadikan dasar penyusunan konsep filsafat dan pendidikan zaman sekarang. sikap ini bukanlah nostalgia (rindu akan hal-hal yang sudah lampau semata-mata) tetapi telah berdasarkan keyakinan bahwa kepercayaan-kepercayaan tersebut berguna bagi bad sekarang, jadi siakp kembali kemasa lapau itu merupakan konsep bagi perenialisme dimana pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kemasa lampau dengan berdasarkan keyakinan bahwa kepercayaan itu berguna bagi abad sekarang ini.

Anak didik yang diharapkan menurut perenialisme adalah mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental, karya-karya ini merupakan buah pikiran tokoh-tokoh besar pada masa lampau, berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol dalam bidang-bidang seperti : bahasa dan sastra, sejarah, filsafat, politik, matamatika dan ilmu pengetahuan alam dan lain-lain, telah banyak yang mampu memberikan ilmunisasi zaman yang sudah lampau.

Dengan mengetahui tulisan yang berupa pikiran dari para ahli yang terkenal tersebut, yang sesuai denga bidangnya maka anak didik akan mempunyai dua keuntungan yaitu:

  1. Anak-anak akan mengetahui apa yang terjadi pada masa lampau yang telah dipikirkan oleh orang-orang besar.
  2. Mereka memikirkan peristiwa0peristiwa penting dan karya tokoil tersebut untuk diri sendiri dan sebagi bahan pertimbangan (reverensi) zaman sekarang.
  1. Aliran Konstruktivisme

Lebih dua dasa warsa terakhir ini , dunia pendidikan mendapat sumbangan pemikiran dari teori kontruktivisme sehingga banyak negara mengadakan perubahan secara mendasar terhadap sistem dan praktik pendidikan mereka bahkan kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pun tak luput dari pengaruh teori ini. Paul Suparno dalam “Filsafat Konstuktivitas dalam pendidikan ” mencoba mengurai implikasi filsafat konstruktivisme dalam pendidikan. Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah bentukan (konstruksi) kita sendiri (Von Glaserfeld). Pengetahuan bukan tiruan dari realitas, bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan merupakan hasil dari konstruksi kognitif melalui kegiatan seseorang dengan membuat struktur, kategori, konsep, dan skema yang diperlukan untuk membentuk pengetahuan tersebut. Jean Piaget adalah Psikolog pertama yang menggunkan filsafat konstruktivisme, sedangkan teori pengetahuanya dikenal dengan teori adaptasi kognitif, sama halnya dengan setiap organisme harus beradaptasi secara fisik dengan dengan lingkungan untuk dapat bertahan hidup , demikian juga struktur pemikiran manusia, manusia bertentangan dengan tantangan , pengalaman, gejala baru, dan persoalan yang harus ditanggapinya secara kognitif (mental). untuk itu manusia harus mengembangkan skema pikiran lebih umum atau rinci, atau perlu perubahan menjawab dan menginterpretasikan pengalaman-pengalaman tersebut. dengan cara itu, pengetahuan seseorang terbentuk dan selalu berkembang. proses tersebut meliputi :

  • Skema adalah : struktur kognitif yang denganya seseorang beradaptasi dan terus mengalami perkembangan mental dalam interaksinya dengan lingkungan.
  • Asimilasi adalah proses kognitif perubahan skema yang tetap mempertahankan konsep awalnya, hanya menambah atau merinsi.
  • Akomodasi adalah proses pembentukan skema atau karena konsep awal sudah tidak cocok lagi.
  • Equilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya (skemanya).


Kontruktivisme bisa dijadikan alat refleksi kritis bagi para penyusun kurikulum . pengambil kebijakan, dan pendidi untuk membuat pembaruan sistem dan praktik pendidikan kita sehingga perubahan-perubahab yang ada bukan sekedar di permukaan namun menukik ke Roh pendidikan itu sendiri.

ALIRAN – ALIRAN DALAM PENDIDIKAN

Pandangan – pandangan yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan sebagai dasar untuk dijadikan pedoman bagi manusia dalam melakukan pendidikan mulai dari abad yang lalu hingga abad sekarang ini telah dikelompokkan ke dalam aliran klasik, aliran baru dan aliran modern. Aliran klasik dipakai untuk mengelompokkan pandangan – pandangan para ahli sebelum abad 19, aliran modern untuk pandangqan – pandangan pada abad 19. Aliran modern terutama dipakai untuk reaksi pandangan – pandangan yang terjadi pada abad 19. pengelompokan – pengelompokan tersebut bukan semata – mata hanya di dasari pada waktu kejadiannya saja, karena setiap perkembangan waktu mencerminkan kemajuan isi pandangan – pandangannya. Tetapi bukan berarti setiap yang lama lebih jelek dari yang baru, sebab pandangan – pandangan yang modern banyak juga didasarkan pada pandangan – pandangan yang lama.

Salah satu pandangan para ahli pendidikan yang menonjol pada abad sebelum 19 adalah tentang faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia, dimana antara ahli satu dengan ahli yang lain berbeda pandangan. Perbedaan – perbedaan pandangan tersebut akibat dari perbedaan aliran filsafat yang dianutnya, sehingga muncul berbaagai aliran pendidikan, yang disebut juga sebagai hukum dasar kependidikan, dan ada juga yang menyebut sebagai teori kependidikan.

Sebelum dibahas beberapa aliran tersebut pada uraian ini disajikan terlebih dahulu tentang perkembangan anak, dan faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan anak yang didasarkan pada pandangan aliran empirisme, nativisme, naturalisme dan kovergensi.

ALIRAN – ALIRAN KLASIK DALAM PENDIDIKAN

Teori – teori pendidikan yang telah dikemukakan oleh para ahli pendidikan sebelum abad 19 meliputi berbagai teori tentang segala usaha pendidikan. Teori yang menonjol pada abad atau aliran klasik ini salah satunya adalah yang berhubungan dengan perkembangan manusia/anak didik. Dalam teori ini juga terdapat banyak aliran – aliran, tetapi yang umum dan dapat dijadikan dasar untuk mengelompokkan teori – teori yang lainnya adalah meliputi :

  1. Aliran Empirisme

Aliran atau teori ini dipelopori oleh John Locke seorang bangsa Inggris yang hidup pada abad 18 yang dilahirkan pada tahun 1632 dan meninggal dunia pada tahun 1704. sesuai dengan namanya aliran ini menganut paham yang berpendapat bahwa segala pengetahuan, keterampilan dan sikap manusia dalam perkembangannya ditentukan oeh pengalaman (empiri) nyata melalui alat inderanya, baik secara langsung berinteraksi dengan dunia luarnya maupun melalui proses pengolahan dalam diri dari apa yang didapatkan secara langsung. Jadi segala kecakapan dan pengetahuannya tergantung, terbentuk dan ditentukan oleh pengalaman. Sedangkan pengalaman di dapatkan dari lingkungan/dunia luar melalui indera, sehingga dapat dikatakan lingkunganlah yang membentuk perkembangan manusia atau anak didik. Lebih jelas dan tegas lagi bahwa hanya lingkunganlah yang mempengaruhi perkembnagan anak. John Locke mengatakan “Tak ada sesuatu dalam jiwa, yang sebelumnya tak ada dalam indera”. Ini berarti apa yang terjadi, apa yang mempengaruhi, apa yang membentuk perkembangan jiwa manusia adalah lingkungan melalui pintu gerbang inderannya yang berarati tidak ada yang terjadi dengan tiba – tiba tanpa melalui proses penginderaan.

Teori ini disebut juga dengan teori tabularasa, yang maksudnya bahwa anak yang baru lahir diumpamakan sebagai kertas putih bersih yang belum ditulisi apa – apa, atau bagaikan papan berlapis lilin 9dahulu papan berlapis lilin ini dipakai sebagai alat komunikasi tulis – menulis). Ajaran ini menganggap bahwa ketika anak lahir tidk mempunyai bakat, pembawaan atau potensi apa – apa, masih dalam keadaan jiwa yang kosong, belum berisi sesuatu apapun. Karena masih dalam keadaan bersih, kosong, tidk ada tulisan atau gambaran apa-apa baik pada kertas atau papan berlapis lilin tersebut, sehingga mau diisi, diwarnai digambari atau dibuat apa tergantung dan ditentukan oleh lingkungan yang menguasai. Begitu juga yang terjadi pada perkembangan diri manusia menurut teori ini sangat tergantung dari lingkungannya. Sama sekali tidak ada pembawaan, bakat, potensi yang dapat berkembang sendiri, bahkan dianggap tidak ada semuanya, sehingga dapat dibawa kemana atau dibentuk apa tergantung dari lingkungan yang menguasainya. Berarti lingkunganlah yang maha kuasa dalam menentukan atau membentuk perkembangan manusia, lingkungan 100 % yang menentukan perkembangan manusia. Atau dengan kata lain kekuasaan pengembangan anak ada pada pendidikan. Pendidikan atau lingkunganlah berkuasa atas pembentukan anak. Karena itu aliran ini disebut juga aliran optimisme.

Sejalan dengan aliran ini yang tidak mengakui adanya pembawaan bakat atau potensi lainnya, adalah aliran behaviourisme. Aliran ini mengajarkan bahwa perkembangan yang diinginkan dari anak adalah tergantung dari pembiasaan pada diri anak anak menurut kebiasaan – kebiasaan yang berlaku di dalam lingkungannya. Persamaan yang lain dari aliran behaviorisme ini adalah optimisnya faktor lingkungan yang berkuasa membentuk perkembangan anak sebagaimana yang dikemukakan oleh Wsatson (tokoh aliran behaviorime) . “Berilah saya sejumlah anak yang baik keadaan badanya dan situasi yang saya butuhkan, dan dari setiap anak entah yang mana, dapat saya jadikan dokter, ahli hukum, pedagang atau jika memang dikehendaki menjadi seorang pengemis atau seorang pencuri”. Betapa optimisnya aliran ini semuanya tergantung dari lingkungan, atau pendidikanlah penentu segalanya.

Benarkah perkembangan ditentukan oleh lingkungannya ? jawaban pertanyaan tersebut dapat dijelaskan dari ilustrasi contoh berikut : (1) Seorang anak desa melanjutkan studinya, di kota yang sangat berbeda dengan lingkungan desanya, setelah beberapa tahun kembali lagi ke desa karena sudah lulus studinya. Secara umum kita akui anak tersebut akan berbeda sekali tingkah lakunya dengan tingkah laku yang dulu. Sehingga dapat disimpulkan berberdanya ini dipengaruhi oleh lingkungan kota dan/atau lingkungan pendidikannya, (2) Dua bayi kembar yang diasuh oleh dua keluarga yang berbeda latar belakang secara mencolok dari segi ekonomi (miskin – kaya), karakter (keras-lembut), atau yang lainnya. Tentu saja lingkungan Tersebut akan mempengaruhi dua anak kembar tersebut, baik dari segi sikap, bahasa, pendirian dan sebagainya. Benarkah lingkungan merupakan satu – satunya penentu perkembangan anak ? jawaban pertanyaan tersebut dapat ditemukan dalam contoh sebuah keluarga yang mempunyai beberapa anak dari bapak ibu yang sama, dalam keadaan serba sama, dalam ekonomi, karakteristik, dan yang lainnya sama. Atau bahkan mempunyai/terdapat anak kembar diantara saudara – saudara lainnya. Tetapi apakah anak – anak dalam keadaan dan kondisi yang serba sama tersebut mempunyai budi pekerti, watak, kepandaian, kecerdikan, atau kpribadian yang sama ? Apakah anak – anak tersebut dapat diharapkan sesuai betul dengan keinginan orang tuanya ? Apakah bisa baik semua ? Jika teori tabularasa ini benar seratus persen, tentu pertanyaan tersebut akan dijawab sama atau bisa.

  1. Aliran Nativisme

Aliran ini dipelopori oleh seorang bangsa Jerman bernama Arthur Schopenhouse yang hidup pada abad 19, dilahirkan tahun 1788 dan meninggal dunia tahun 1860. teori ini merupakan kebalikan dari teori tabularasa, yang mengajarkan bahwa anak lahir sudah memiliki pembawaan sendiri – sendiri. Pembawaan yang hanya ditentukan oleh pembawaannya sendiri – sendiri. Pembawaanlah yang maha kuasa, yang menentukan perkembangan anak. Lingkungan sama sekali tidak bisa mempengaruhi, apalagi membentuk kepribadian anak. Jika pembawaan jahaat akan menjadi jahat, jika pembawaannya baik akan menjadi baik. Walaupun bagaimana baiknya, kerasnya dan tertibnya usaha pendidikan/lingkungan. Hasil pendidikannya akan tetap sebagaimana pembawaannya. Mungkin bisa terjadi selama dalam bantuan pendidikan dan pengawasan bisa baik, tetapi begitu sudah berdiri sendiri jika memang dasarnya jelek akan kembali sebagaimana dasarnya yang jelek itu. Jadi lingkungan sama sekali tidk bisa mempengaruhi terhadap perkembangan atau hasil pendidikan anak. Perkembangan ditentukan oleh faktor pembawaannya, yang berarti juga ditentukan oleh anak itu sendiri. Karena lingkungan atau pendidikan sama sekali tidk bisa mempengaruhi perkemebangan anak, dan potensi – potensi yang dimiliki bukannya hasil pendidikan melainkan memang potensi yang sudah ada di bawa sejak lahir, sehingga tidak ada kepercayaan nilai pendidikan dapat mempengaruhi, maka teori ini disebut juga dengan atau aliran pesimisme.

Benarkah perkembangan itu dipengaruhi oleh pembawaan ? Untuk membuktikan kebenaran itu dapat diambil beberapa contoh. Misalnya kalau orang tuanya seorang penyanyi maka anaknya akan menjadi seorang penyanyi juga. Kalau orang tuanya seorang pelukis maka anaknya akan menjadi seorang pelukis juga. Contoh lainnya, seorang anak yang tidak berpembawaan usahawan biarpun dibesarkan dalam lingkungan keluarga usahawan, maka hasilnya akan minim sekali. Bahkan akan tertekan dan merasa jika dipaksakan.

Dua contoh diatas lebih merupakan contoh pembawaan karena aktor keturunan, karena ada kemungkinan menjadi seorang penyanyi atau pelukis tersebut diwariskan oleh orang tuanya melalui sel – sel kelamin. Tetapi bisa juga tidak karena keturunan jika pembawaannya semata – mata memang karena keunikannya dengan pribadi yang lain. Sedangkan contoh yang terakhir lebih dapat merupakan contoh pemawaan karena bakat, sebab bukan karena diwariskan karena sela – sel kelamin, dari sama sekali tidak ada kemiripan dengan keluarganya. Jika orang tuanya usahawan tentunya anaknya juga mempunyai pembawaan usahawan.

Benarkah perkembangan anak – anak semata – mata ditentukan oleh faktor pembawaan ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut dapat digambarkan contoh Ilustrasi sebagai berikut. Apakah keluarga seorang yang baik pasti akan mempunyai anak yang baik ? Apakah seorang dari keluarga yang kurang baik akan mendapatkan anak – anak yang kurang baik saja ? atau dengan pertanyaan sebaliknya, apakah anak – anak yang jelek pasti dari keluarga yang jelek saja ? Tentu saja jawabannya, tidak. Berarti ada faktor lain di luar diri anak tersebut, bukan semata – mata karena pembawaannya (yang bersifat keturunan). Contoh lain bahwa perkembnagan bukan semata – mata ditentukan oleh pembawaan (yang bersifat bakat). Apakah anak yang kembar akan menjadi pribadi yang sama?, sama – sama menjadi aik atau sama – sama menjadi anak yang jelek?

  1. Aliran Naturalisme

Aliran ini dipelopori oleh Jean Jaques Rousseau seorang Prancis yang hidup pada abad 18, dilahirkan pada tahun 1712 dan meninggal dunia pada tahun 1778. aliran ini ada persamaannya dengan teori nativisme, bahkan kadang disamakan. Padahal mempunyai perbedaan tertentu. Ajaran dalam teori ini mengatakan bahwa sejak lahir anak sudah memiliki pembawaan sendiri, baik bakat, minat, kemampuan, sifat, watak dan pembawaan lainnya. Pembawaan akan berkembang sesuai dengan lingkungan yang alami, bukan lingkungan yang dibuat-buat. Pembawaan yang dibawa anak hanya pembawaan yang baik saja, tidak sama dengan teori nativisme yang meliputi pembawaan baik dan buruk. Secara alami pembawaan itu akan berkembang sesuai dengan alamnya sendiri – sendiri secara baik, jika anak menjadi buruk maka lingkunganlah dalam pernyataan yang dikemukakan Rousseau : “Semua adalah baik dari tangan Sang-Pencipta, semua menjadi buruk di tangan manusia”.

Melihat pernyataan Rousseau dari uraian diatas bahwa sebetulnya lingkungan juga ikut mempengaruhi terhadap perkembangan anak. Tetapi tidak berpengaruh positif, melainkan hanya berpengaruh negatif saja, apabila lingkungan itu dibuat – dibuat, seperti lingkungan pendidikan.

Dengan kata lain jika pendidikan diartikan usaha sadar untuk mempengaruhi perkembangan anak seperti mengarahkan, mempengaruhi, menyiapkan, menghasilkan apalagi menjadikan anak kearah tertentu, maka usaha tersebut hanyalah berpengaruh jelek terhadap jelek terhadap perkembangan anak. Tetapi jika pendidikan diartikan membiarkan anak berkembang sesuai dengan pembawaan dengan lingkungan yang tidak dibuat – buat (alami), maka pendidikan yang dimaksud terakhir ini berpengaruh positif terhadap perkembangan anak. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rousseau, “Pendidikan bukanlah suatu persiapan untuk hidup, melainkan memang hidup itu sendiri”. Pendidikan bukanlah harus mengikuti suatu prosedur tertentu, melainkan merupakan perkembngan atau pertumbuhan individu yang alami”.

Jadi lingkungan yang diinginkan dalam perkembangan anak adalah lingkungan yang tidak dibuat – buat, lingkungan yang alami, begitu juga yang berpengaruh terhadap perkembangan anak bukanlah pendidikan yang disengaja, melainkah pendidikan yang tidak disengaja. Pendidikan yang disengaja hanya berpengaruh negatif terhadap anak (karena pengaruh negatif inilah sehingga teori disebut juga negativisme). Yang menentukan yang memimpin, yang memerintah, yang mengarahkan hanyalah alamnya sendiri sesuai dengan pembawaan baik yang dimiliki anak sejak lahir. Tugas pendidikan adalah membiarkan anak berkembang menurut alamnya dan menjauhkan pengaruh yang jelek, karena kodrat pembawaan anak adalah baik.

Benarkah pembawaan mempengaruhi tehrdap perkembangan? Benarkah yang dimiliki anak hanyalah pembawaan baik saja? Benarkah lingkungan atau masyarakat itu buruk ? Adakah pendidikan tanpa sengaja ? Pertanyaan pertama sudah terjawab pada pembahasan aliran nativisme. Jawaban pertanyaan keuda sangat tergantung dari keyakinan kita, terutama dari ajaran agama yang kita anut, karena pembawaan yang dibawa sejak lahir sama sekali tidak bisa dibuktikan secara empirik, sebab sejak lahir bahkan ketika masih dalam kandungan anak sudah tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Sedangkan keyakinan yang mana ada pembawaan baik dan pembawaan buruk, memang dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari – hari tanpa dikaitkan apakah terbawa sejak lahir atau tidak. Untuk menjawab pertanyaan ketiga, dapat dihubungkan dengan pertanyaan kedua tetai terjadi kontradiktif. Kalau sejak dilahirkan anak telah memiliki pemebawaan yang baik, kemudian lingkungan atau masyarakat dikatakan buruk, padahal masyarakat adalah terdiri dari sekumpulan individu, tentunya justru masyarakat akan berpengaruh positif terhadap perkembangan anak. Atau masyarakat tetap berpengaruh jelek terhadap anak, tetapi pembawaannya anak yang dibawa sejak lahir buruk semua. Tentunya yang terakhir tidak kita setujui.

Yang dapat kita akui adalah bahwa masyarakat atau lingkungan dapat berpengaruh baik dan dapat berpengaruh buruk, sedangkan pertanyaan keempat dapat dijawab dengan dua pilihan tentang pengertian pendidikan, diartikan secara luas yaitu meliputi segala sesuatu yang mempengaruhi terhadap perkembangan anak. Berarti pendidikan meliputi semua pengalaman manusia, meliputi semua kejadian. Atau pendidikan dapat diartikan hidup dan kehidupan itu sendiri. Contohnya tayangan – tayangan film yang maksud sutradara adalah agar pesan tertentu yang baik dapat dimiliki oleh penonton, tetapi yang ditangkap atau dicontoh oleh penonton jusru tingkah laku – tingkah laku yang lain, bahkan yang jelek, yang sebetulnya tidak diperhitungkan oleh sutradara, tetapi justru tingkah laku itulah yang ditangkap dan dimiliki oleh penonton. Pendidikan yang demikianlah yang dimaksud oleh Rosseau, pendidikan yang alami yang tanpa ada kesengajaan untuk membawa ke maksud tertentu. Contoh di atas justru maksud sutradalah yang tidak dikehendaki dalam pengertian pendidikan ini. Biarlah apa yang akan ditangkap oleh penonton dan nantinya akan secara alami akan dibentuk oleh lingkungan secara alami pula.

Sedangkan pengertian kedua, pendidikan diartikan usaha sadar dilakukan untuk membantu perkembangan anak didik sesuai dengan tuntutan lingkungannya. Bedanya dengan pengertian yang pertama, dalam pengertian ini ada usaha secara sadar, ada kesengajaan dalam melakukan kegiatan, ada usaha mempengaruhi dan ada usaha membawa anak kemaksud tertentu, sekalipun nantinya keputusan tergantung dari anak didik, dan pengertian pendidikan inilah yang kita jadikan dasar melakukan suatu pendidikan. Justru pengertian pendidikan yang pertama dapat dikatakan sebetulnya tidak da kegiatan pendidikan. Sekalipun kita menganut pengertian pendidikan yang kedua, pengertian pendidikan yang pertama harus tetap kita perhatikan sebab tetap banyak kejadian – kejadian di luar pendidikan yang kita sengaja ini mempengaruhi terhadap ank didik atau manusia pada umumnya.

  1. Aliran Konvergensi

Aliran ini dipelopori oleh William Stern, seorang Jerman yang hidup pada abad 20, dilahirkan pada tahun 1871 dan meninggal dunia pada tahun 1938. sesuai dengan namanya teori ini berusaha memadukan dua teori dimuka yang terlalu ekstrim dari pandangan yang berbeda, di satu sisi hanya mengakui lingkungan (empirisme) yang menentukan perkembangan, sama sekali tidak mengakui adanya pembawaan, sedangkan disisi lain hanya mengakui pembawaan saja yang mempengaruhi perkembangan anak. Keduanya mengandung kebenaran dan keduanya mengandung ketidakbenaran. Faktor pembawaan dan faktor lingkungan sama – sama mempunyai peranan yang sangat penting, keduanya tidak dapat dipisahkan, sebagaimana teori nativisme, teori ini juga mengakui bahwa pembawaan yang dibawa anak sejak lahir juga meliputi pembawaan baik dan pembawaan buruk. Pembawaan yang di bawa anak sejak lahir tidak akan bisa berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai dengan pembawaan tersebut. Sebaliknya, sekalipun lingkungan yang bagaimana baiknya tidak akan menghasilkan perkembangan yang baik jika memang pada diri anak tidak ada pembawaan atau bakat seperti yang diharapkan akan dikembangkan.

Sebagai contoh, diketemukan seorang anak di India yang tidak bisa berbicara sebagaimana seusia sebayanya (9 tahun) dan tidak bisa berjalan tegak sebagaimana pada umumnya, tetapi menggunakan tangan dan kaki sebagaimana binatang. Padahal telah kita ketahui bahwa manusia memiliki pembawaan berjalan tegak dan mempunyai potensi berbahasa yang terus berkembang, tetapi karena anak tadi dibesarkan oleh seekor serigala maka segala tingkah lakunya menyerupai binatang. Contoh ini menggambarkan ada pembawaan baik, tetapi tidak di dukung oleh lingkungan yang baik sehingga tidak bisa berkembang sesuai dengan yang diharapkannya. Contoh yang lain, seorang anak normal seusia 5 bulan kita harapkan sudah dapat berjalan. Dengan menggunakan berbagai teknologi modern untuk mengupayakan agar bisa berjalan. Upaya tersebut akan sia – sia, bahkan bisa jadi fatal akibatnya misalnya patah kaki atau berbentuk X atau 0. kemudian anak normal usia satu tahun kita harapkan sudah bisa berbicara dengan baik dengan bantuan berbagai alat teknologi modern sekalipun, anak tersebut tetap tidak akan bisa berbicara dengan baik. Sebab pada pembawaannya anak baru dapat bisa berjalan sekitar umur satu tahun dan anak bisa berbicara dengan baik sekitar umur tiga tahun. Pada contoh terakhir ini upaya memberikan lingkungan yang baik tetapi tidak di dukung oleh pembawaannya. Sekalipun ada potensi untuk dikembangkan, yakni potensi bisa berjalan dan potensi bisa berbicara, tetapi pembawaannya ini terkait juga dengan waktu, yaitu munculnya potensi tersebut sehingga dapat berjalan atau dapat berbicara.

Berdasarkan pandangan tersebut, William Stem menyimpulkan bahwa perkembangan anak tergantung dari pembawaan dan lingkungan, yang keduanya merupakan sebagaimana dua garis yang bertemu atau menuju pada satu titik yang disebut konvergensi. Istilah yang digunakan oleh Kihajar Dewantara adalah dasar sebagai pembawaan dan ajar sebagai lingkungannya, yang keduanya memkpengaruhi terhadap perkembangan anak didik, sama – sama tidak bisa dipisahkan. Bahkan dilukiskan bahwa anak sejak lahir telah membawa pembawaan sendiri – sendiri bagaikan meja berlapis lilin yang tertulisi remang – remang, tergantung dan lingkungannya untuk memperjelas tulisan – tulisan yang baik dan membiarkan atau menghalangi agar tulisan – tulisan yang baik dan membiarkan atau menghalangi agar tulisan – tulisan yang jelek tidak akan muncul atau bahkan kalau bisa dihapuskannya. Tulisan baik dan buruk dimaksudkan bahwa pada diri manusia ada pembawaan baik dan ada pembawaan buruk.

Dari uraian ketiga teori tersebut, teori yang cocok dapat diterima sesuai dengan kenyataan adalah teori konvergensi, yang tidak mengekstrimkan faktor pembawaan, faktor lingkungan atau alamiah yang mempengaruhi terhadap perkembangan anak, melainkan semuanya dari faktor – faktor tersebut mempengaruhi terhadap perkembangan anak. Akan tetapi teori ini juga tidak bisa diterima jika anak didik sebagai subjek yang berkembang hanya dianggap menerima akibat pengaruh dari faktor – faktor tersebut. Artinya anak dalam menerima atau dipengaruhi faktor tersebut hanya menerima secara pasif saja bagaikan benda yang ditekan dari arah yang berbeda sehingga dapat ditentukan arah, kecepatan, jauh – dekatnya benda tersebut terlempar. Hal ini bertentangan dengan hakikat manusia sebagai manusia yang aktif. Sebagai contoh orang tua yang mempunyai status sosial ekonomi yang baik bahkan sangat memperhatikan terhadap tingkah laku anaknya walau yang sekecil apapun, menginginkan anaknya yang telah menyelesaikan sekolah SD dan SMP dengan baik untuk melanjutkan ke suatu sekolah SMTA yang baik yang sesuai dengan minat anak tersebut. Setelah diterima dan mengikuti pendidikan disekolah tersebut, tiba – tiba ditengah jalan anak tersebut menunjukkan tingkah laku yang negatif, misalnya bolos, pulang terlambat, bahkan kadang – kadang tidak pulang. Padahal tingkah laku terlambat , bahkan kadang – kadang tidak pulang. Padahal tingkah laiu tersebut tidak pernah dilakukan pada masa pendidikan sebelumnya. Kemudian orang tua anak tersebut berusaha mencari penyebab dan penyelesaiannya. Misalnya dengan menghubungi teman – teman terdekatnya dengan pesan – pesan tertentu, menghubungi guru – guru termasuk petugas BP-nya, menasihati, mengajak membicarakan dengan anak tersebut dan berbagai usaha telah ditempuhnya, bahkan usaha yang bersifat irasionalpun telah ditempuhnya, tetapi rupanya tidak membuahkan hasil dan gagallah sekolah anak tersebut, gagallah cita – cita orang tua agar anaknya menjadi anak yang berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan agama.

Dari contoh tersebut dilihat dari teori konvergensi yang apabila memperlakukan anak semata – mata sebagai objek penegaruh faktor pembawaan dan lingkungan, atau dianggap manusia yang pasif maka teori tersebut masih tetap salah. Karena dilihat dari pembawaannya anak tersebut dari orang tua yang baik status sosial ekonominya. Anak tersebut dapat menyelesaikan studi sebelumnya dengan baik. Sedangkan lingkungan yang ada juga dapat dikatakan baik. Hal ini dapat dilihat dari usaha orang tua, perhatian orang tua, pilihan sekolah yang baik, dan usaha – usaha lainnya untuk mempengaruhi anaknya agar mempunyai masa depan yang baik. Akan tetapi pembawaan dan lingkungan tersebut tidak bisa seratus persen menentukan keberhasilan perkembangan anak. Hal ini berarti selain kedua faktor tersebut, keaktifan diri : reaksi, pilihan, penentuan dari diri anak tersebut ikut mempengaruhi terhadap perkembangan anak.

Bahkan oleh Kihajar Dewantara dikatakan keakktifan diri inilah yang dapat dipengaruhi oleh pendidikan agar dapat menguasai diri, jika penguasaan diri dimiliki, maka jiwa atau pembawaan yang jelek dapat dikuasai, dikendalikan, bahkan mungkin bisa dihilangkan. Sebab pada dasarnya ada pembawaan baik dan ada pembawaan jelek. Dan dalam jiwa manusia terdapat bagian yang bersifat biologis, yaitu keadaan jiwa yang berhubungan dengan perasaan yang sudah mendarah daging pada diri manusia, dan bagian inilah yang tidak dapat diubah oleh lingkungannya. Sedangkan bagian jiwa lainnya adalah yang bersifat intelligibel, yaitu keadaan jiwa manusia yang berhubungan dengank pikiran. Keadaan inilah yang dapat dipengaruhi oleh lingkungan dan keadaan, termasuk pendidikan, jika bagian ini terus dikembangkan sehingga dapat menguasai diri, maka bagian biologis jiwa manusia tersebut dapat dikuasai.

Dalam kaitannya dengan keaktifan pada diri manusia jika hal tersebut sudah termasuk dalam pembawaan, maka teori konvergensi sudah memadai.

Pertanyaan selanjutnya, manakah diantara faktor hereditas dan faktor lingkunganl yang mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan anak. Jawaban dari pertanyaan tersebut tidak bisa segera ditentukan yang mana yang lebih mempengaruhi terhadap perkembangan, seperti pada teori nativisme atau teori empirisme. Teori konvergensi tidak membedakan mana yang lebih menonjol, tetapi keduanya merupakan faktor yang sama – smaa saling mempengaruhi terhadap perkembangan anak. Baik faktor heriditas maupun faktor lingkungan keduanya mempunyai ciri sendiri – sendiri, keduanya mempunyai rentangan kuantitas dan kualitasnya. Sebagai ilustrasinya, pembawaan yang dibawa anak bagaikan menja berlapis lilin yang sudah tercoreti, ada yang sudah penuh dan ada yang belum penuh, ada yang tercoreti secara remang – remang dan ada yang sudah lebih jelas. Begitu juga yang terjadi pada lingkungan, ada yang kuat dan sampai yang kurang kuat, dan banyak sedikitnya macam lingkungan yang mempengaruhi juga berbeda. Sehingga tidak bisa ditentukan mana yang lebih kuat di antara keduanya. Yang penting dengan adanya keaktifan pada diri anak, anak perlu mendapat bantuan agar dapat mengetahui dan menyadari apa yang jadi pembawaannya. Pembawaan – pembawaan yang buruk kperu dihambat bahkan dihilangkan perkembangannya. Juga perlu disadarkan bahwa di lingkungan sekitar anak terdapat lingkungan yang bermacam ada yang baik dn ada yang buruk. Dengan keaktifan pada diri, anak dapat menyadari mana yang menunjang dan mana yang menghambat perkembangan pembawaan yang dibawanya.

Pada setiap aliran pendidikan memiliki pandangan yang berbeda dalam memandang perkembangan manusia. Hal ini berdasarkan atas faktor-faktor dominan yang dijadikan sebagai dasar pijakan bagi perkembangan manusia. Untuk memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai hal itu, maka berikut ini disajikan berbagai aliran klasik dan gerakan-gerakan baru dalam pendidikan.

1. Aliran Klasik, di Bagi Menjadi 4 yaitu:

  1. Aliran Empirisme

Aliran ini dimotori oleh seorang filosof berkebangsaan inggris yang raionalis bernama John Locke (1632-1704). Aliran ini bertolak dari Lockean tradition yang lebih mengutamakan perkembangan manusia dari sisi empirikyang secara eksternal dapat diamati dan mengabaikan pembawaan sebagai sisi internal manusia (Umar Tirtarahardja,2000:194). Secara etimologis empirisme berasal dari kata empiri yang berarti pengalaman. Pokok pikiran yang dikemukakan oleh aliran ini menyatakan bahwa pwngalaman adalah sumber pengetahuan, sedangkan pembawaan yang berupa bakat tidak diakuinya.

Menurut aliran empirisme bahwa pada saat manusia dilahirkan sesungguhnya dalam keadaan kosong bagaikan “tabula rasa” yaitu sebuah meja berlapis lilin yang tidak dapat ditulis apapun di atasnya. Sehingga pendidikan memiliki peran yang sangat penting bahkan dapat menentukan keberadaan anak. Pendidikan dikatakan “Maha Kuasa” artinya Pendidikan memiliki kekuasaan dalam menentukan nasib anak. John Locke menganjurkan agar pendidikan disekolah dilaksanakan berdasarkan atas kemampuan rasio dan bukan perasaan. Aliran ini meyakini bahwa dengan memberikan pengalaman melalui didikan tertentu kepada anak, maka akan terwujudlah apa yang diinginkan. Sementara itu pembawaan yang berupa kemampuan dasar yang dibawa seseorang sejak lahir diabaikan sama sekali. Penganut aliran ini masih berkeyakinan bahwa manusia dipandang sebagai makhluk yang dapat dimanipulasi karena keberadaannya yang pasif.

  1. Aliran Nativisme

        Menurut Zahara Idris(1992:6) nativisme berasal dari bahasa latin nativus berarti terlahir. Seseorang berkembang berdasarkan pada apa yang dibawanya sejak lahir. Adapun inti ajarannya adalah bahwa perkembangan seseorang merupakan produk dari faktor pembawaanyang berupa bakat. Aliran ini dikenal juga dengan aliran pesimistik karena pandangannya yang menyatakan, bahwa orang yang “berbakat tidak baik” akan tetap tidak baik, sehingga tidak perlu dididik untuk menjadi baik, Begitu pula sebaliknya. Namun demikian aliran ini berpendapat bahwa pendidikan sama sekali tidak berpengaruh terhadap perkembangan seseorang, sehingga bila pendidikan yang diberikan tidak sesuai dengan pembawaan seseorang maka tidak akan ada gunanya.

  1. Aliran Naturalisme

        Pandangan yang ada persamaannya dengan nativisme adalah aliran naturalisme (Umar Tirtarahardja, 2000:197).Lahirnya aliran ini dipelopori oleh J.J Rousseau, yang mengamati pendidikan. Ditulis dalam bukunya yang berjudul “Emile” menyatakan bahwa anak yang dilahirkan pada dasarnya dalam keadaan baik. Anak menjadi rusak atau tidak baik karena campur tangan manusia (masyarakat). Aliran ini berpendapat bahwa pendidikan hanya memiliki kewajiban memberi kesempatan kepada anak untuk tumbuh dengan sendirinya. Pendidikan sebaiknya diserahkan kepada alam. Oleh karena itu ciri utama aliran ini adalah bahwa dalam mendidik seorang anak hendaknya dikembalikan kepada alam agar penbawaan yang baik tersebut tidak dirusak oleh pendidik.

  1. Aliran Konvergensi

        Aliran ini dipelopori oleh William Stern (1871-1938). Aliran ini semakin dikenal setelah kedua aliran sebelumnya yakni empirisme dan nativisme tidak lagi banyak memiliki pengikut. Inti ajaran konvergensi adalah bahwa bakat, pembawaan dan lingkungan atau pengalamanlah yang menentukan pembentukan pribadi seseorang. Sehubungan dengan hal itu teori. Konvergensi yang dikemukakan William Stern berpendapat bahwa:

Pendidikan memiliki kemungkinan untuk dilaksanakan, dalam arti dijadikan penolong kepada anak untuk mengembangkan potensi.Yang membatasi hasil pendidikan anak adalah pembawaan dan lingkungannya.

Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern, aliran konvergensi dipandang lebih realistis, sehingga banyak diikuti oleh para pakar pendidikan.


2. Gerakan-Gerakan Baru dalam Pedidikan
dibagi menjadi 4 yaitu:

  1. Pembelajaran Alam Sekitar

        Dasar pemikiran yang terkandung di dalam pengajaran alam sekitar adalah peserta didik akan mendapat kecakapan dan kesanggupan baru dalam menghadapi dunia kenyataan. Penjelajahan seseorang dalam menemukan hal-hal baru, baik untuk pengetahuan, olah raga, maupun rekreasi menjadikan program pendidikan alam sekitar dipandang sangat penting. Melalui penjelajahan yang dilakukan, maka sekarang peserta didik, akan menghayati secara langsung tentang keadaan alam sekitar, belajar sambil mengerjakan sesuatu dengan serta merta memanfaatkan waktu senggangnya. Pendidikan alam sekitar ini mudah dilaksanakan di segala jenjang pendidikan. Konsekuensinya, dalam persiapan perlu dipikirkan tentang biaya ketika akan diadakan penjelajahan seperti halnya biaya transportasi, biaya hidup selama penjelajahan, penginapan dan sebagainya.

  1. Pengajaran Pusat Perhatian (Centres D’interet)

        Penemuan adalah Ovide Decroly (1871-1923), seorang dokter perancis mendirikan yayasan untuk anak-anak abnormal yang bertempat dirumahnya pada tahun1901. pada tahun1907 metodenya diterapkan pada anak-anak normal. Pengajaran disusun menurut pusat perhatian anak, yang dinamai centres d’interet. Decroly mencari dan menyelidiki naluri anak dalam pertumbuhannya (secara intrinsik). Naluri yang perlu didapatkan adalah naluri untuk mempertahankan diri,untuk makan, bermain dan bekerja, dari meniru. Berangkat dari naluri tersebut selanjutnya disusun pusat perhatian seperti: untuk makan, untuk berlindung, mempertahankan diri terhadap musuh, dan untuk bekerja. Yang menarik pada pendidikan/ pengajaran Decroly yaitu bahwa anak selalu bekerja sendiri tanpa ditolong dan dilayani.

  1. Sekolah Kerja

        George Kerschensteiner (1854-1932) menulis karangan tentang arbeitsshule. Ia seorang guru ilmu pasti yang diangkat sebagai inspektur di Munchen. Pada tahun 1898 ia mengembangkan cita-cita pendidikan, bagi kerschensteiner, tujuan hidup manusia yang tertinggi adalah mengabdi kepada negara. Berhubungan dengan itu kewajiban sekolah yang terpenting ialah menyiapkan peserta didik untuk sesuatu pekerjaan. Jadi yang menjadi pusat tujuan pengajaran adalah kerja untuk menatap masa mendatang. Melalui bekerja, manusia menuju ke lingkungan kebudayaan masyarakatnya. Peserta didik bekerja berkelompok sesuai dengan bagian masing-masing, sehingga menimbulkan tanggung jawab.

  1. Pengajaran Proyek

        Proyek pengajaran berarti kegiatan, sedangkan belajar mengandung arti kesempatan untuk memilih, merancang, berlatih, memimpin dan sebagainya. Dalam hal ini penting ialah bahwa peserta didik telah aktif memecahkan persoalan, maka wataknya akan terbentuk. Demikian konsep pemikiran WH Kilpatrick di dalam pengajaran proyek.


3. Dua aliran Pokok Pedidikan di Indonesia

a. Perguruan Kebangsaan Taman Siswa

        Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, ada salah seorang putera Indonesia yang bernama Raden mas Soewardi Soerjaningrat. Ia gemar menulis dengan menggunakan bahasa Belanda yang halus dan mengandung sindiran terhadap pemerintah Belanda, tulisannya bejudul “Alks ik een Nederlander was” yang artinya Andai saja saya seorang Belanda. Dari tulisannya yang dianggap tajam oleh pemerintah Belanda inilah ia dibuang di Negeri Belanda.

        Ketika berada di tempat pembuangan beliau merasa bebas dalam menyatakan pendapat-pendapatnya, sedang di tanah air sendiri yang dikuasai oleh pemerintah penjajah Belanda justru kebebasannya terganggu. Dari kecintaannya terhadap pendidikan yang sekaligus merupakan perwujudan dari cita-citanya, maka pacta tanggal 3 juli 1922 di Yogyakarta didirikanlah suatu taman kanak-kanak yang diberi nama Taman Indriya. Kemudian berkembang lagi dan semakin luas hingga seluruh lembaganya diberi nama perguruan Kebangsaan Taman Siswa. Pada jaman penjajahan Belanda, Taman Siswa bersikap “noncooperative” dan menolak pemberian subsidi. Di dalam melaksanakan konsep pendidikannya Taman Siswa memiliki asas-asas sebagai berikut:

Asas merdeka untuk mengatur dirinya sendiri. Hendaknya setiap peserta didik dapat berkembang menurut kodrat dan bakatnya,namun mereka dididik dengan sistem among atau tut wuri handayani.

        Asas Kebudayaan yang dalam hal ini kebudayaan Indonesia sendiri. Asas kerakyatan, pendidikan dan pengajaran harus diberikan kepada seluruh rakyat. Asas kekuatan sendiri (berdikari). Dengan demikian segala pembelanjaan ditutup dengan uang pendapatan sendiri. Asas berhamba kepada anak.

        Pada saat Indonesia merdeka pada tahun 1945, dan dua tahun berikutnya berhasil disusun dasar-dasar Taman Siswa yang dikenal dengan Panca Darma. Kelima dasar yang dimaksud adalah:

  • Kemanusiaan
    Harus ada cinta kasih terhadap sesama manusia dan terhadap seluruh makhluk Allah SWT.
  • Kodrat Hidup Termasuk Kodrat hidup adalah pembawaan.
  • Kebangsaan
    Tidak boleh bersifat chauvinistic ( menyombongkan kehebatan bangsa sendiri) dan tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum manusia.
  • Kebudayaan
    Kebudayaan nasional harus dipelihara. Pendidik harus mengajak peserta didik meresapi jiwa bangsa yang terwujud dalam kebudayaannya.
  • Kemerdekaan Kebebasan

        Ki Hajar Dewantara juga menentukan semboyan bagi kaum pendidik, antara lain: ing ngarso sung tulodho, artinya jika pendidik berada di muka dia berkewajiban memberi teladan kepada para peserta didiknya. Ing madya mangun karso artinya: jika di tengah membangun semangat, berswakarya, dan berkreasi pada peserta didik. Tut wuri handayani artinya jika di belakang pendidik mengikuti dan mengarahkan peserta didik agar berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab.

b. Ruang Pedidikan INS di Kayutanam

        Sebuah sekolah lain timbul sebagai reaksi terhadap sekolah-sekolah pemerintah Hindia Belanda yaitu INS ( Indonesiche Nederlansce School) di kayutanam, yaitu suatu kota kecil di dekat padang panjang Sumatera Barat. Sekolah ini mempunyai rencana pelajaran dan metode sendiri yang hampir mirip dengan rancangan kerschensteiner dengan arbeitsschulenya. M. Syafei dengan sekolahnya ingin membentuk pemuda-pemuda Indonesia yang berani tegak sendiri, berusaha sendiri, hidup bebas dan tidak tergantung buat seumur hidupnya pada pemerintah sebagai pegawainya.

        Adapun dasar pemikiran INS adalah: Percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menentang intelektualisme, aktif, giat dan punya daya cipta serta dinamis. Memperhatikan bakat dan lingkungan siswa. Berpikir secara rasional, bukan secara mistik. Perlu juga diketahui bahwa ruang pedidikan INS terdiri atas empat tingkatan yaitu: Ruang rendah Sekolah Dasar 7 tahun. Ruang antara tahun (sambungan ruang rendah). Siswa tamatan HIS atau Schakel tidak langsung dapat diterima pada ruang dewasa, tetapi harus masuk ruang antara lebih dahulu. Ruang dewasa 4 tahun (sambungan ruang antara atau ruang tengah). Ruang masyarakat 1 tahun Pada semua tingkatan ruang, diberikan 50% mata pelajaran umum dan 50% pelajaran kejuruan (Zahara Idris 1984:21). Menurut S Purbakawatja (1970:212) M. Syafei menunjukan sifatnya sebagai pendidik yang secara demokratis ingin memberi kesempatan kepada anak tumbuh dan berkembang menurut
garis masing-masing.

        Sistem ini tidak mendapat tanggapan yang diharapkan dari daerah lain karena terlalu banyak menuntut pengorbanan dari pendidiknya. Mereka harus berani hidup sangat sederhana dan mungkin dalam kekurangan. Keuntungan dari pendidikannya hanya dirasakan secara perorangan.

DAFTAR PUSTAKA

Mudyahardjo, Redja.2002.”Pengantar Pendidikan”.PT Raja Grafindo:Jakarta

  1. utami
    24 November 2011 pukul 7:17 pm

    bagus kak,

  2. izzan
    25 November 2011 pukul 8:11 pm

    ada aliran pendidkan di negara barat…..

  3. februldefila
    27 November 2011 pukul 11:57 am

    izzan :

    ada aliran pendidkan di negara barat…..

    Umumnya, Itu adalah aliran pendidikan di dunia Barat, sedangkan aliran pendidikan yang berasal dari indonesia hanya ada dua, yakni aliran Taman Siswa yang diperkenalkan oleh Ki Hajar Dewantara, serta aliran INS kayutanam yang diperkenalkan oleh M. Syafe’i.

  4. februldefila
    27 November 2011 pukul 11:57 am

    utami :

    bagus kak,

    yopz, semo0ga bermanfaat.

  5. 26 Januari 2012 pukul 9:50 am

    Sangat bagus sebagai referensi, sebenarnya juga banyak aliran dalam pendidikan dari negara kita atau kawasan timur. Hanya karena banyak profesor yg disekolahkan diluar sana (Barat) maka yg banyak dibicarakan dari barat.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: