Beranda > EDUCATION, februl defila > INTERNALISASI PARADIGMA EMPAT PILAR ( SENDI ) PENDIDIKAN

INTERNALISASI PARADIGMA EMPAT PILAR ( SENDI ) PENDIDIKAN


  1. Interaksi Belajar-Mengajar

    Lingrend (dalam Usman, 2000:25), mengatakan bahwa ada empat pola komunikasi dalam proses interaksi guru dengan siswa seperti digambarkan dalam diagram berikut ini:

    Jenis-Jenis Interaksi Dalam belajar-Mengajar :

    1. Komunikasi satu arah Komunikasi dua arah, ada balikan guru, tidak ada interaksi diantara siswa.
    2. Komunikasi dua arah, Komunikasi banyak arah, Ada balikan bagi guru interaksi optimal antara guru Siswa berinteraksi dengan siswa, dan antara siswa dengan siswa lainnya.

    Mengacu pada keterangan di atas, sudah barang tentu proses belajar-mengajar merupakan kegiatan yang integral dengan menggunakan interaksi resipokral dan memanfaatkan konsep komunikasi multi arah. Namun demikian realitas di lapangan, guru masih cenderung mengadakan interaksi searah, yang berdampak pada proses pembelajaran teacher centered.

    Mengoptimalkan interaksi multi arah bukanlah hal yang mudah. Namun ada beberapa kiat yang dapat digunakan guru, yakni dengan sistem TANDUR (De Porter, 2002:89), yang meliputi:

    1. TUMBUHKAN
      Tumbuhkan minat dengan memuaskan “Apakah Manfaatnya BagiKu” (AMBAK) dan manfaatkan kehidupan pelajar.
    2. ALAMI
      Ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua pelajar.
    3. NAMAI
      Sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi sebagai sebuah masukan
    4. DEMONSTRASIKAN
      Sediakan kesempatan bagi pelajar untuk menunjukkan bahwa mereka tahu.
    5. ULANGI
      Tunjukkan pelajar cara-cara mengulangmateri dan menegaskan, “Aku tahu bahwa aku memang tahu.”
    6. RAYAKAN
      Pengakuan untuk menyelesaikan, partisipasi, dan pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan
  2. Pembelajaran Kreatif

    Jika ditelaah lebih mendalam, gambaran pengoptimalan interaksi dengan sistem TANDUR yang diadopsi dari Buku Quantum Teaching, agaknya identik dengan potret pembelajaran dengan karakteristik PAKEM (pembelajaran aktif, kreatif, dan menyenangkan). Secara kontekstual, pembelajaran ala PAKEM berisi serangkaian kegiatan, yang meliputi:

    1. Berorientasi pada keaktifan, kreativitas, dan kemandirian siswa.
    2. Siswa perlu melakukan pengamatan dan merumuskan dugaan awal.
    3. Siswa perlu melakukan percobaan pengujian dan menarik kesimpulan dari percobaannya.
    4. Melaporkan hasil temuannya secara langsung (otentik) dengan bimbingan guru yang aktif bertindak sebagai fasilitator dan motivator (Depdiknas, 2001:10).

    Realitas di lapangan, agaknya guru kurang tertarik untuk menerapkan pembelajaran ala PAKEM lantaran memilih pembelajaran yang hanya menghafal semata. Potret pembelajaran yang selama ini diterapkan guru cenderung berkutat pada proses pembelajaran yang hanya memusatkan perhatiannya pada kemampuan otak kiri siswa saja. Sebaliknya, kemampuan otak kanan kurang ditumbuhkembangkan dan bahkan dapat juga dikatakan tidak pernah dikembangkan secara sistematis.

    Kondisi itu menyebabkan pendidikan nasional tidak mampu menghasilkan orang-orang yang mandiri, kreatif, memiliki self awareness, dan orang-orang yang mampu berkomunikasi secara baik dengan lingkungan fisik, sosial dalam komunitas kehidupannya. Akibatnya, dilihat dari tingkat pendidikan tinggi, pengangguran sarjana yang secara formal termasuk kelompok “terdidik” semakin meluas (Suyanto, 2000:7).

    Sebagai gambaran, berikut ini dibandingkan kemampuan otak kanan dengan kemampuan otak kiri.

    Proses di belahan otak kiri

    1. Terjadi pada proses penemuan yang bersifat bagian-bagian dari suatu komponen.
    2. Proses berpikir analitis.
    3. Proses berpikir yang mementingkan tata urutan sekuensial dan serial.
    4. Proses berpikir temporal, terikat pada waktu kini.
    5. Proses berpikir verbal, matematis, notasi musikal.

    Proses di belahan otak kanan

    1. Tertarik pada proses penginte-grasian dari bagian-bagian suatu komponen menjadi satu kesatuan yang bersifat utuh dan menyeluruh.
    2. Proses berpikir yang bersifat relasional, konstruksinal, dan membangun suatu pola.
    3. Proses berpikir simultan, dan parallel.
    4. Proses berpikir lintas ruang, tidak terikat pada waktu kini.
    5. Proses berpikir yang bersifat visual, lintas ruang, musikal.
  3. Empat Pilar Pendidikan

    Dalam buku Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (2001:13) paradigma pembelajaran tersebut akan menciptakan proses belajar-mengajar yang efektif, yakni: belajar mengetahui (learning to know), belajar bekerja (learning to do), belajar hidup bersama (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be).

    1. Learning to know ( belajar mengetahui )

      Konsep “learning to know” menyiratkan makna bahwa pendidik harus mampu berperan sebagai informator, organisator, motivator, diretor, inisiator, transmitter, fasilitator, mediator, dan evaluator bagi siswanya, sehingga peserta didik perlu dimotivasi agar timbul kebutuhan terhadap informasi, keterampilan hidup, dan sikap tertentu yang ingin dikuasainya. Yusak (2003) mengatakan bahwa secara kreatif menguasai instrumen ilmu dan pemahaman yang terus berkembang, umum atau spesifik, sebagai sarana dan tujuan , dan memungkinkan terjadinya belajar sepanjang hayat.

      Untuk mengimplementasikan konsep ” learning to know” guru harus mampu menempatkan dirinya sebagai fasilitator. Di samping itu guru tuntut untuk mampu berperan ganda sebagai kawan berdialog bagi siswanya dalam rangka penguasaaan pengetahuan siswa.

    2. Learning to do ( belajar bekerja )

      Konsep “learning to do” menyiratkan bahwa siswa dilatih untuk sadar dan mampu melakukan suatu perbuatan atau tindakan produktif dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Terkait dengan hal tersebut maka proses belajar-mengajar perlu didesain secara aplikatif agar keterlibatan peserta didik, baik fisik, mental dan emosionalnya dapat terakomodasi sehingga mencapai tujuan yang diharapkan.

      Sekolah sebagai wadah manyarakat seharusnya memfasilitasi siswanya untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimiliki,serta bakat dan minatnya agar “learning to do”(belajar melakukan sesuatu) dapat terealisasi.Walau sesungguhnya bakat dan minat juga tergantung dengan lingkungan.Seperti kita ketahui bersama bahwa keterampilan merupakan sarana untuk menopang kehidupan seseoarng bahwa keterampilan lebih dominan dari pada pengauasaan pengetahuan semata.

    3. Learning to live together ( belajar hidup bersama )

      Konsep “learning to live together” merupakan tanggapan nyata terhadap arus individualisme serta sektarianisme yang semakin menggejala dewasa ini. Fenomena ini bertalian erat dengan sikap egoisme yang mengarah pada chauvinisme pada peserta didik sehingga melunturkan rasa kebersamaan dan harga-menghargai. Memahami, menghormati dan bekerja dengan orang lain, mengakui ketergantungan, hak dan tanggungjawab timbal balik yang melibatkan partisipasi aktif warga, tujuan bersama menuju kerekatan sosial, perdamaian dan semangat kerjasama demi kebaikan bersama.

      Terjadinya proses “Learning to live together” pada pilar yang ke empat ini ,kebiasaan hidup bersama,saling menghargai ,terbuka me,beri dan menerima perlu dikembangkan di sekolah.Kondisi seperti inilah yang memungkinkan tumbuhnya sikap saling pengertian antar ras,suku dan agama.jika seseoarang hendak memahami orang lain,maka seseorang itu harus pertama-tama mengenal dirinya.Manusia memperoleh identitas baru menonjolkan hal-hal yang sama pada manusia bukan perbedaan antar mereka

    4. Learning to be ( belajar menjadi diri sendiri )

      Konsep learning to be, perlu dihayati oleh praktisi pendidikan untuk melatih siswa agar mampu memiliki rasa percaya diri (self confidence) yang tinggi. Kepercayaan merupakan modal utama bagi siswa untuk hidup dalam masyarakat. Pengembangan dan pemenuhan manusia seutuhnya yang terus “berevolusi”, mulai dengan pemahaman diri sendiri, kemudian memahami dan berhubungan dengan orang lain. Menguak kekayaan tak ternilai dalam diri.

      Konsep “Learning to be”(belajar untuk menjadi seseorang)hal ini erat sekali kaitannya dengan bakat,minat,perkembangan fisik,kejiwaan,tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungan,

      misalnya bagi siswa yang agresif akan menemukan jati dirinya jika diberikan kesempatan yang cukup luas untuk berkreasi. Dan sebaliknya,bagi siswa yang pasif,peran guru sebagai kompas penunjuk arah sekaligus menjadi fasilator sangat diperlukan untuk menumbuhkembangkan potensi dirisecara utuh dan maksimal.

PENUTUP

  1. kesimpulan

    Berdasar uraian di atas dapat ditarik suatu pemahaman bahwa implementasi paradigma empat pilar pendidikan sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan merupakan conditio sine qua non dalam pendidikan. Dalam pengertian paradigma tersebut mutlak diterapkan dalam proses belajar-mengajar.

    Penerapan paradigma tersebut sudah barang tentu akan berdampak pada pembelajaran efektif yang direkomendasikan UNESCO yakni pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Konsep pembelajaran efektif tersebut bermuara pada empat pilar pendidikan, yakni (learning to know), (learning to do), (learning to live together), dan (learning to be).

    Penerapan empat pilar pendidikan menuntut kemampuan profesional guru sejalan diberlakukannya otonomi daerah, khsususnya bidang pendidikan. Kemampuan professional guru akan terwujud apabila guru memiliki kesadaran dan komitmen yang tinggi dalam mengelola interaksi belajar-mengajar pada tataran mikro, dan memiliki kontribusi terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan pada tataran makro.

  2. Saran

    Mewujudkan kondisi ideal pembelajaran yang kreatif, bukanlah hal yang mudah lantaran munculnya beragam fenomena aktual dalam dunia pendidikan sangat dibutuhkan guru yang bersungguh-sungguh mengembangkan kompetensinya, baik kompetensi personal, profesional, dan kemasyarakatan.

    Oleh karena itu, guru diharapkan lebih kreatif di dalam mendesain proses pembelajaran, sehingga ada perpaduan yang sinergis antara hasil pembelajaran dengan kecakapan hidup (life skill).

Daftar Pustaka

http://ilmunyata.blogspot.com

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: